21.6.10

When We Talk About the Past..



Dunia sudah gila
Atau aku yang lama-lama akan menggila?
Lembar demi lembar catatan tergores darah
Darah
Dan darah
Darah lagi..
Hanya warna merah yang tertinggal di sana
Atau
Catatan-catatan hitam
Yang semakin kelabu dimakan umur

Tertimbun bersama daun-daun yang busuk
Di kala musim berganti
Kembali pulang dengan sepotong kaki yang masih utuh
"Begini saja sudah untung.." katamu

***

Sok tau banget ya gue sok-sokan bikin puisi gitu. Anyway, gue sama sekali bukanlah seseorang yang sangat puitis. Bahkan kalau gue disuruh baca puisi, sampai kebelinger pun gue gak bakalan ngerti apa maksud dan tujuannya. Prinsip gue: kalau bisa ngomong secara langsung, kenapa harus pakai kiasan? (Prinsip orang yang ga ngerti literatur, sigh)


Nah, anehnya tadi tiba-tiba aja terpikir kata-kata itu. Kenapa? Ya nggak tau. Gue sendiri heran sama otak gue sendiri, tiba-tiba memikirkan sesuatu yang "nggak gue banget" dan jauh banget. Halah, udah lah. Bikin pusing sendiri aja. Sampai segini aja intermezzo-nya..

Yang ini juga aneh: gue tiba-tiba kepikiran sama sejarah. Padahal sejarah adalah pelajaran yang bukan termasuk dalam daftar pelajarn favorit gue. Sorry, no offense. Hanya menurut pendapat gue aja. Beberapa alasan simpel yang mungkin terdengar bodoh:


1.) Gue males bacanya
2.) Gue males ngapalnya

3.) Pusing sama tanggalnya
4.) Suka banyak beda pendapat dan versi

5.) Susah ngapalin namanya.


Gue jadi inget pait-paitnya pengalaman gue beberapa bulan lalu dalam nyiapin ujian universitas. Gue sampai rela browsing banyak-banyak demi mendapat banyak sumber, sampe gue beli beberapa buku acuan yang kira-kira mencakup semua materi. Pokoknya niat abis deh.


Kemudian..


SETELAH DIBACA KOK TERNYATA MENYENANGKAN? *jerit sendiri*


Haha, seru aja gimana ceritanya sampai sekarang ada beberapa negara yang masih "musuhan" ternyata akibat kejadian di masa lalu. Gimana ceritanya negara-negara adikuasa sekarang kini bisa menjadi bangsa besar, tentu bukan mustahil kalau ternyata dulu mereka dijajah oleh pemerintahan mereka sendiri.


Dan..

Istilah-istilah aneh yang gue jumpain di sana. Beberapa yang gue inget:


- Korean Boom (Lupa, yang pasti bukan demam K-Drama atau K-Pop)
- Oil Boom (Kalau nggak salah surplus minyak di Indonesia)

- Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli, konflik internal dalam tubuh PDI yang menyebabkan terpecahnya partai ini -- sorry kalau salah, banyak yang udah lupa)

- Malari (Malapetaka 15 Januari 1974, demo mahasiswa yang menentang kedatangan PM Jepang)

- Mafia Berkeley (Entah kenapa setiap kali nama ini disebut gue jadi inget Edi Brokoli -- berusaha menyelenggarakan konsep ekonomi Trickle Down Effect)


Banyak banget deh istilah-istilah yang gue temui yang lebih "aneh" dari ini. Selalu bikin gue kebelinger bacanya. Baru ada nemu satu, udah muncul lagi istilah lainnya. Akhirnya yang sebelumnya terlupakan. Dan seterusnya..

Tapi..


Di balik itu..


Yang bikin gue miris, yah, anehnya sepanjang sejarah yang gue baca kenapa selaluu berisi tentang masalah, masalah, dan masalah. Konflik. Pertumpahan darah. Perang. Selalu begitu.


Tau Franz Ferdinand kan?
Ya, bener. Emang nama band.

Tapi jauh sebelum band itu berdiri, Franz Ferdinand adalah nama seorang putra mahkota berkebangsaan Austria-Hongaria yang dibunuh oleh pasukan Serbia.

Dan percaya atau nggak, kematian putra mahkota ini yang menjadi salah satu penyebab meletusnya Perang Dunia I.

*geleng-geleng kepala*



Dan PD I memakan korban sebanyak.. *jengjeng*
Jumlah korban
Tewas:
5.520.000
Terluka:
Hilang: 4.121.000
12.831.000
Tewas:
4.386.000
Terluka: 8.388.000
Hilang: 3.629.000

Left: Triple Etente & friends

Right: Triple Alliante & friends

Courtesy of Wikipedia


Luar biasa..

Dan itu baru secuil dari apa yang gue baca, aslinya: lebih buaanyak lagi pastinya.

Pertanyaannya:
Kenapa sejarah banyak menceritakan sisi kelamnya?

Jawaban:
Karena itulah hidup. Ga ada yang namanya lawan kata, yang ada hanya pasangan.
Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasangan. Sisi gelap dan sisi terang bukan merupakan suatu lawan kata, melainkan pasangan. Di mana ada sisi gelap, di sana pasti akan muncul juga sisi terang.

Yang gue sorot di sini memang hanya beberapa bagian dari sisi "gelap" sejarah yang udah gue pelajari belakang. Tapi tentunya, ia pun pasti pernah menorehkan tinta emas dalam lembarannya..

DR

Shadow


Aku. Berdiam diri di sudut bayangan yang tak kunjung menjadi sosok nyata. Aku tergeletak begitu saja di sudut bersama tumpukan rongsokan. Apa kamu tahu sebentar lagi akupun akan menjadi begitu? Meskipun aku ada tetapi kamu toh tak peduli. Meskipun aku memohon toh kamu tak mau melihat. Meskipun aku menjerit toh kamu menutup telinga. Aku tahu kamu tahu. Aku tahu kamu tahu bahwa aku ada.


Tapi tak ada salahnya juga menjadi bayangan.


Setidaknya aku lebih baik darimu.


DR

14.6.10

Gadisnya, Bukan Gadisku


Setiap pukul 15.00 tiba, ia tidak pernah lupa untuk mengunjungi tempat itu. Sebuah foodcourt yang terletak di lantai 2 sebuah pusat perbelanjaan. Di sudut yang sama dan tempat yang sama. Ia sedang menunggu gadisnya sambil ditemani oleh secangkir teh hangat.

Tak lama, gadis yang ia tunggu akhirnya datang juga. Ia keluar dari gerbang sekolah yang terletak persis di sebelah pusat perbelanjaan tersebut. Ia memerhatikan gadisnya dengan seksama saat ia menyeberang jalan menuju sebuah halte bus.


Ia menerawang sambil sesekali melirik gadis kecilnya yang terduduk sendiri di bangku halte. Gadis yang selalu membuat darahnya berdesir walau hanya dengan menatap wajahnya. Gadis yang membuatnya tidak perlu berpikir panjang untuk menyadari bahwa ia telah jatuh cinta padanya. Setelah sepuluh tahun mereka tidak bertemu. Ah, tidak.. Ia bahkan selalu mencintainya setelah sepuluh tahun tidak bertemu.


Dan di sinilah tempat terbaik di mana ia bisa mengawasi gadisnya secara jelas. Menemaninya yang sedang sendiri di sana. Ah, bukan, justru ialah yang ditemani oleh gadis tersebut. Ditemani oleh gerak-geriknya yang mampu melumpuhkan seluruh syaraf tubuh saking girangnya. Meskipun begitu, ini merupakan momen terbaik yang selalu ia nantikan. Lima belas menit terbaik dalam seharian ini. Memerhatikan gadis tersebut, walau hanya dari jarak pandang yang cukup jauh. Tanpa kontak. Tanpa tatap mata. Tanpa pertemuan. Tetapi baginya, semua itu terasa begitu indah.


Sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba memenuhi pandangannya. Menghalangi pandangan matanya yang sedang hanyut dalam keindahan wajah sang gadis. Mobil itu lagi, yang selalu menghancurkan momen indahnya bersama gadisnya. Lagi-lagi, ia pun harus menelan kekecewaan itu. Saat tubuh mungil itu digandeng oleh sosok yang keluar dari mobil tersebut. Seseorang. Dan itu bukanlah dirinya. Ia tidak pernah melihat wajah gadisnya secantik ini saat gadisnya bertemu dengan sosok itu. Kini ia tahu pasti bahwa kini hati gadisnya telah memilih. Dan lagi-lagi, itu bukan dirinya..


Ia beranjak dari tempatnya, meninggalkan secangkir teh yang telah kosong.


DR

Overheard


Di sebuah bus antarkota di sebuah siang yang cerah.. (baca: gerah)


Dua mbak-mbak duduk persis di belakang gue.
Mbak 1 : SELAMAT HARI JADI BOGOR YANG KE-528 (lagi baca spanduk ceritanya)
Mbak 2 : Wah, Bogor udah 500 tahun lebih.
Mbak 1 : Iyaya, udah berapa abad sih?
Mbak 2 : 1 abad kan 100 tahun. Jadi kira-kira 5 abad.
Mbak 1 : Jakarta juga udah tua, ya.
Mbak 2 : Iya, namanya aja udah banyak ganti-ganti.
Mbak 1 : Betul, dari Batavia.. terus apan lagi ya? :berenti: Terus, Java juga pernah.. :lanjutnya dengan nada sok tahu:
Gue : (dalem hati) Java itu bahasa Inggrisnya Jawa, Mbak.
Mbak 2 : Tapi Bogor gak pernah ganti nama ya.
Mbak 1 : Iya gak pernah, dari dulu namanya Bogor terus.. :masih dengan nada sok tahu:
Gue : (masih dalem hati) BOGOR itu dulunya BUITENZORG loh, Mbak.

***

Lagi-lagi di sebuah siang yang terik.

Gue : Mau ke mana nih kita?
A : Gak tau.
Gue : Yang pasti dong.
A : Gak tau ah, ke mana foot, eh foots melangkah aja.
Gue : .....

***

Kenapa semua latar belakangnya siang? Saya juga nggak tahu.

Temen gue, F : Masa kemarin gue ketemu sama temen nyokap gue, terus dia bilang gini masa..
Gue : :menunggu:
F : Aduh, si A'a sekarang udah gede ya, udah bujangan..

DR

10.6.10

Dream Home




surfing cool photos at We Heart It memang gak ada matinye! :D keren keren banget. God, will my future house be like that? Amin.

DR

6.6.10

Decision


Pak Kadir duduk di hadapan putrinya. Ia memerhatikan Citra, putri semata wayangnya, dengan seksama. Ia masih sama seperti Citra yang dulu. Hanya ada satu yang berbeda sekarang, yaitu tanda kehidupan yang terlihat mulai menipis di wajahnya. Citra mungkin tak tahu bahwa ayahnya sedang gusar. Citra mungkin kini sedang asyik terbang atau bermain di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun. Raganya memang di sini. Tetapi separuh dirinya telah pergi. Tanpa sadar, Pak Kadir menitikkan setitik air dari sudut matanya. Ia bangkit dan mencium kening putrinya mungkin untuk yang terakhir kali. Ia sudah memutuskan..

Tak lama berselang, Pak Kadir bisa merasakan bahwa Citra telah terbang meninggalkan raganya. Tak ada suara, tak ada kata. Hanya gurat matanya dan desah napasnya yang sarat akan kesedihan. Ia telah merelakan putrinya untuk bebas dari belenggu alat bantu kehidupan ini. Sejatinya, Citra mungkin telah pergi sejak sebulan yang lalu. Saat ia menutup matanya setelah peristiwa naas tersebut. Hanya saja mesin ini tetap mengingkannya untuk tetap ada, berusaha membuatnya bernapas sedikit lebih lama lagi.

Namun, semua cukup sampai di sini saja.

Pak Kadir memilih Citra untuk pergi.

Dan Citra memilih untuk pergi...


(dedicated to someone, somewhere..)


DR

1.6.10

Random


Kemarin, pas lagi ke dokter gigi, gue ngeliat dua anak kembar lagi melongo ke dalem ruangan dokter.
Lucu banget deh. Udah posisinya sama, ekspresinya sama, bajunya sama, kayak lagi ada acara baris-berbaris gitu.
Kalau dipikir-pikir, aneh juga ya. Kalau ngeliat anak kembar, rata-rata dikasih nama mirip-mirip gitu.
Gak usah jauh-jauh, bokap gue, sama kembarannya cuma beda satu huruf namanya.
Padahal mereka berdua kembar laki-laki dan perempuan.
Ada lagi temen gue, dikasih nama Aan sama Iin.
Temen lama gue juga namanya Ani dan Ayu.
Kenapa?
Kenapa harus mirip coba?
Padahal kan mereka dua individu yang berbeda, cuma kebetulan aja lahirnya barengan.


Peratiin aja foto anak kembar di atas.
Bajunya kurang mirip apalagi coba?
Bahkan sampe ke sabuk-sabuknya pun sama.
Bukannya nggak boleh sih, cuma bingung aja.
Yang namanya anak kembar itu kan bukan satu paket yang selalu bisa disamain, ya kan?
Gue pribadi sebenernya sering bertanya-tanya, bokap gue kok gini, tapi kembarannya kok gitu.
Tentang banyak hal deh.
Tapi setelah dipikir-pikir, gue sadar kalau mereka itu dua pribadi yang berbeda.
Jelas aja.
Anak kembar gak harus selalu punya sifat dan jalan hidup yang sama kan?

Skip.

Nah, abis dari dokter gigi gue cabut ke SKI Katulampa bareng emak. Ituloh, tempat jual tas, sepatu, dan sodara-sodaranya. Gue juga lupa singkatan apa ya SKI itu? Hm.


Maaf ya malah foto makanannya, bukan tasnya.

Ngeliatin harganya sih lumayan lah, mulai dari 70-an ke atas. Kebetulan ada tas yang sedikit nyantol di hati gue, harganya sekitar 200-an gitu. Nah, kebiasaan buruk gue nih selalu gitu. Kalau udah nemu barang yang ditaksir aja, malah jadi suka banyak mikir. Takut nanti nyesel lah, takut duitnya bisa buat kepake yang lain lah, takut ini, takut itu, ujung-ujungnya.. Gak jadi beli deh. Sejam muterin itu tempat hasilnya nihil. Aduh susah ya jadi cewek -_-

DR

25.5.10

"Mom just want to remind you.."


Then which of the Blessings of your Lord will you both (jinns and men) deny?

(Q.S Ar-Rahman 55:13)

Semalem sebelum tidur, gue sempet ngobrol bentar dulu sama nyokap. Biasalah, ngalor ngidul gak jelas sambil nungguin ngantuk. Terus nyokap tiba-tiba nanya gini: "Kamu kalau abis sholat, suka bersyukur gak sih?"

Wuedan.

Gue diem. Gue inget-inget. Mikir-mikir. Hm.

"Suka.." jawab gue sekenanya.

"Kok suka doang? Kamu kan udah dikasih kenikmatan. Doa kamu udah dikabulin, sampe diterima di dua universitas yang kamu mau. Masa bersyukurnya gitu doang?"

Krik. Krik. Krik

"Tapi kan bersyukur gak harus lewat kata-kata aja, Mah. Bisa dengan selalu beribadah, dll." *ceritanya ngebela diri*

"Ya gak gitu juga dong, masa sekarang diibaratin aja sekarang Mama. Mama misalnya beliin kamu baju, terus tapi kamu diem aja, gak bilang apa-apa. Kamu bilang terima kasihnya dalem hati. Emang enak perasaan Mama?"

"Kan bisa dengan ngerawat itu baju.. Dibagus-bagusin. Kan berarti aku menghargai pemberian Mama." *ngotot amat sih gw*

"Kalau kamu gitu ke Mama aja bikin Mama gak enak, gimana sama ke Allah? Yang ngasih kamu segalanya.."

Krik. Krik. Krik.

"Tapi pas pengumuman kan aku udah bersyukur."

"Iya, emangnya cukup sekali aja? Selain itu juga kan kamu dikasih banyak kenikmatan setiap hari. Ya nafas lah, kesehatan, makanan yang enak. Masa dikasih segitu banyak cuma bersyukurnya sekali doang?"

...

"Iya, Mah."

"Mama cuma ngingetin kamu aja, supaya kamu selalu ingat bersyukur."

:)

DR

24.5.10

Ketika "Teman" Tak Lagi Menjadi Teman


Yang namanya perjumpaan pasti bakalan berlanjut ke kisah-kisah yang dirangkai bareng. Entah itu pertemanan, persahabatan, bahkan pacaran. Dan yang pengen gue garisbawahi di sini adalah pertemanan. Ya, pertemanan.

Pasti kita pernah denger deh kata-kata yang begini: "Yang namanya mantan pacar itu ada. Tapi gak ada yang namanya mantan temen."

Emang sih, aneh juga. Masa pas kita ketemu seseorang di jalan, terus tiba-tiba bilang gini: "Eh itu kan mantan temen gue!" Aneh aja kedengerannya.

Gue sendiri dulu gak percaya bakalan ada istilah kayak begitu. Tapi, setelah dipikir-pikir.. well, it does exist.

Bukan karena siapa-siapa. Bukan karena si A gak mau lagi jadi temen si B, atau sebaliknya. But it just flows. Dan gue percaya bahwa waktu udah banyak merubah banyak orang.


Include myself, who knows? Let it be still a mystery, and I don't wanna know any further.

Just like the previous, let the time flows it out.

DR

16.5.10

Ada Apa dengan IPA dan IPS?


Buat yang pernah/sedang/akan mengalami SMA pasti bakalan ditanya sama hal-hal kayak gitu deh.

Buat yang pernah: "waktu SMA-nya ambil jurusan IPA apa IPS?"
Buat yang sedang: "jurusannya IPA apa IPS?"
Buat yang akan: "kalau udah SMA, mau ambil IPA apa IPS?"

Yah, beberapa pertanyaan gitu juga pernah gue alamin. Terutama pas masa-masa kelas sepuluh semester kedua deh, pasti banyak yang nanyain kayak gitu ke gue. Dan gue (meskipun) dengan mantap berkata: IPS,
pasti masih ada aja orang-orang yang kebingungan. Well, biasanya pertanyaan dilanjutkan dengan: kenapa gak ambil IPA aja?

Aneh, ada apa sih dengan pikiran orang-orang? Apa salah kalau jurusan IPS dijadikan sebagai cita-cita? Apa jurusan IPA lebih baikkah daripada IPS? Atau pemikiran-pemikiran orang-orang yang mendiskreditkan orang-orang IPS bahwa 'IPS adalah buangan anak-anak yang gak bisa masuk IPA' sudah tertanam kuat dalam pikiran mereka?

Nggak juga. Sri Mulyani. Selo Soemarjan. Koentjaraningrat. Contoh orang-orang sukses yang berlatar belakang dari ilmu sosial. Apa mereka buangan? Tentu aja nggak. Well, gak semua sih yang berpikiran seperti itu, tapi gue pribadi pernah merasakan bagaimana pemikiran orang-orang tersebut sampai ke telinga gue, meskipun secara tersirat. But I know what they really thought, at least, melalui mimik wajah dan kata-kata.

Gue sendiri
awalnya saat pertama kali masuk SMA, ngeliat anak-anak IPA tuh 'wah' gimana gitu ya (namanya juga freshman). Bahkan gue sempet ikutan ekskul KIR biar bisa masuk IPA (pikiran anak kelas 1 SMA-ga nyambung banget)

Tapi setelah dipikir-pikir, emang tujuan gue apa sih? Emang kalau gue masuk IPA menjamin kalau gue bakalan pinter? Dan apakah gue nyaman dengan semua itu? Dan ternyata saudara-saudara, semua nilai pelajaran fisika, kimia, biologi gue pas kelas 1 SMA jeblok semua, yah, walaupun gak ada nilai merah sih.. Tapi tetep aja. Malahan nilai ilmu sosial gue jauh lebih tinggi dibanding 3 mata pelajaran itu.

Akhirnya gue pun memutuskan untuk pindah haluan. Bukan karena faktor itu aja sih. Banyak. Salah satunya karena gue merasa, itu bukan bidang gue. Gue lebih suka membaca, menghafal, menulis, berdiskusi, meneliti gerak-gerik seseorang, belajar tentang kebudayaan. Dan itu jauh banget sama pelajaran IPA. Well, beruntung juga sih gue karena gue menemukan minat gue sebelum gue 'terjeblos' pada jalan yang salah.

Hari bagi rapot pun datang. Gue dinyatakan naik ke kelas sebelas (2 SMA).

Tapiiii yang bikin gue terbelalak adalah:
GURU GUE NULIS DI BAWAH RAPOTNYA:
NAIK KE KELAS 11 JURUSAN IPA.

What?! Gue langsung panik aja gitu. Terus gue bilang gini: "Bu, kok IPA?"
Terus, kata wali kelas gue: "Iya, nilai kamu mencukupi."
Gue: "Tapi saya nggak mau, Bu."
Wali Kelas: "Loh kok gak mau?"
Gue: "Iya, saya pengen di IPS."
Wali Kelas: *diem sebentar* "Yaudah, tapi jangan nyesel ya.."
Kata gue dalem hati, saya ga akan nyesel, Bu, enak aja. Kira-kira yaa begitulah haha.

Next.

Biasalah, anak sekolahan yang baru naek kelas pasti ribut nanyain ke temen-temennya yang laen: "gimana rapotnya? atau "masuk IPA/IPS?" dan sejenisnya deh. Sampai gue ketemu sama seorang temen gue yang notabene udah jadi anak IPA, nanyain hal di atas juga, dan gue jawab dengan jawaban yang biasa juga. Sampai pada akhirnya (tiba-tiba) dia ngomong gini: "Gue bersyukur deh, dari yang gue liat anak-anak yang masuk IPA baik-baik semua.." dan semakin menggelitik gue untuk gak berkata, "Jadi yang gak baik masuk IPS nih?" haha tapi akhirnya gue diem aja deh. Well, dari dua kalimat yang berdasarkan pengalaman gue di atas aja udah bikin gue berpikir: "Apaan sih? Gitu banget.." tapi ujung-ujungnya (lagi-lagi) gue simpen dalem hati aja deh dari pada ribut. Haha


Kalau gue, sebagai kalangan minoritas (duileh..) tetep aja harus berpikir objektif. Pintar atau nggaknya seseorang itu kan tergantung dirinya sendiri, bukan berdasarkan jurusan. Sukses nggaknya seseorang juga tergantung dianya. Gak ada masalah mau dicap orang bagaimana, yang penting kita nyaman dengan diri sendiri kan? Itu juga yang membuat gue memutuskan untuk bilang ke guru gue apa yang gue mau. Menyesal? Nggak sama sekali. Bahkan gue merasa nyaman banget dan merasa gue udah memilih jalan yang 'benar' berdasarkan apa kata hati gue.

On the other hand, jadi inget masa-masa kelas 3 SMA yang baru lewat (sebulan yang lalu). Masa-masanya daftar ke universitas, dan sekarang gantian deh pertanyaannya jadi gini: "Daftar ke mana aja? Ambil jurusan apa?" Yaa kira-kira begitulah pertanyaan sesama murid yang masih terlunta-lunta mencari sekolah -____-

Ada yang menarik di sini. Beberapa temen gue dari IPA, banyak yang ambil jurusan IPC, IPS malahan. Pasti tiap tahun ada aja yang gitu. Sebenernya gak ada masalah sih soal itu. Tapi gue mau berbagi sedikit nih.

Dulu, dulu loh, dulu ya.. Gue sempet berpikir gini, ngapain sih masuk IPA kalau ujung-ujungnya ambil lahan orang.. Yah, begitulah pemikiran sempit gue ini. Secara permukaan, emang terlihat seperti itu. Tapi, dengan banyak-banyak sharing dan berkomunikasi dengan mereka, gue malah jadi salut banget.

Bayangin aja, jarak antara UN sama ujian universitas kan mepet banget, tapi buktinya banyak dari mereka yang bisa lolos keduanya, dengan mata pelajaran yang sangat berbeda dan juga nggak sedikit loh jumlahnya. Ditambah lagi sama cerita mereka yang bilang, ada yang terpaksa masuk IPA karena disuruh orang tuanya lah, ada yang sebenarnya mereka gak suka sama pelajarannya lah.. Dan segala macem. Tapi mereka berani untuk mencoba 'menemukan' apa yang mereka inginkan. It's about time. Mungkin mereka sama dengan gue saat gue masih kelas 1 dulu, bedanya mereka baru menemukan keinginan mereka yang sebenarnya saat ini..

Toh, nggak ada yang melarang mereka juga kan untuk mengambil jurusan di universitas yang sama sekali berbeda dengan jurusan mereka saat SMA? Bahkan undang-undang pun memperbolehkan. Both science and social students are the same. Anak IPA boleh ambil jurusan IPS, begitu juga sebaliknya. Fair kan?

Masalahnya.. kebanyakan dari kita sekarang malah sibuk protes bilang bahwa mereka ambil lahan orang lain. Hey, it's their rights, isn't it? Yang kita butuhkan sekarang hanyalah meningkatkan kualitas diri dan memiliki kemampuan bersaing. Kalau orang-orang yang berasal dari latar belakang yang sama sekali jauh aja bisa, masa kita nggak?


DR