Showing posts with label Words. Show all posts
Showing posts with label Words. Show all posts

3.10.10

Indah?

Jangan panggil diriku melankolis, meski jemari ini tak ingin berhenti menulis. Tak perlu rangkaian kata-kata manis yang terurai, karena takkan ada sedikit pun yang akan keluar. Satu kata cukup menerangkan seluruh isi hatiku yang redup, hanya bertemankan cahaya temaram membuatku tak tentu arah. Galau.

Galau itu datang saat hati ini ingin menepisnya.
Galau itu datang justru saat aku ingin meninggalkannya.
Galau itu selalu ada ketika kamu berusaha untuk menolaknya.

Perjumpaan yang tiba-tiba seolah berputar kembali dalam benakku. Meski aku yakini, tak ada sesuatu hal pun yang tiba-tiba di dunia ini. Tidak. Semua itu sudah tertulis dalam catatan-Nya. Kita hanya tinggal menunggu kapan lembaran berikutnya akan dibuka, hingga ia habis pada akhir halamannya dan tak ada sebuah catatan pun yang terlewat.

Pertemuan itu.. Tak ada sedikit pun terbersit pikiran akan ada sesuatu yang berbeda antara aku juga kamu. Aku punya kehidupanku, kau punya kehidupanmu. Kita sama-sama berjalan pada kecepatan yang sama pada jalur yang berbeda. Perjumpaan itulah yang membuat segalanya menjadi berbeda. Saat keduanya bercabang, berbelok, dan bersinggungan, entah mengapa semua terasa begitu.. berbeda.

Yang aku tahu hanya perasaan ini terasa begitu indah. Perlahan-lahan jalan itu terbuka di hadapanku, ada secercah sinar di ujung sana yang ingin kuraih saat kutahu kini ada dirimu di jalurku.

Tapi..

Aku takut. Tahukah kamu, dan apakah pernah kamu menyadari tentang hal ini. Diri kita yang kini bangga-banggakan akan kegagahannya dulu diawali oleh setitik air yang hina. Bahkan kemegahan istana berlapis emas pun semua diawali oleh serpihan debu dan pasir kusam yang teronggok di hamparan tanah. Bahkan takkan pernah ada keindahan sebelum adanya perjuangan pada mulanya.

Tapi..
Ada satu yang kutakutkan..

apakah sesuatu yang berawal indah akan berakhir dengan luka?
Aku tak tahu. Pikirku tak lagi logis untuk menjawab semua pertanyaan tentang cinta.
Pejamkanlah matamu sejenak, mungkin kau akan tahu apa jawabnya..

DR

3.9.10

Take A Look Around..

aku cuma bisa senyum kecut
memerhatikan mereka membungkuk dan memungut
sepanjang perjalanan hidupnya kepalanya terus menunduk
mencoba percaya kalau di bawah sana ada rezeki
jangan salah
sesekali ia pun mendongak
berharap ada tangan yang terjulur padanya
sementara di hadapannya berdiri gagah
istana para pembesar negeri
yang hidupnya selalu membusung dada
sementara di bawah kakinya ada wajah menderita

DR

1.9.10

Gerbong Khusus Wanita: No Men, Please


Fenomena kereta api khusus wanita sedikit banyak mengundang perhatian dari saya. Saya, sebagai pengguna kereta api untuk pulang-pergi rumah-kampus seminggu sekali ini, awalnya merasa tidak begitu peduli dengan kemunculan kereta ini.

Sampai suatu ketika pas ibu saya nengok ke kosan, beliau cerita bahwa beliau naik kereta (bisa lebih disebut gerbong) khusus wanita. Beliau bilang bahwa adanya kereta tersebut membuat beliau tidak khawatir lagi kalau harus berpergian atau berdesakan saat jam sibuk. Meskipun berdesakan, mereka semua wanita yang membuat beliau merasa lebih nyaman.

Ada satu cerita lucu di sini. Ibu saya yang bercerita. Ada sepasang suami istri yang sudah cukup tua yang sepertinya tidak tahu dengan adanya gerbong khusus wanita ini. Mereka pun naik di gerbong 1 dan duduk di sana berdampingan. Sampai ketika ada seorang sekuriti yang menghampiri bapak tersebut dan menyuruhnya untuk pindah gerbong. Sang bapak kelihatannya sangat tidak rela berpisah dengan sang istri. Kemudian ia berkata, "Baik saya akan pindah gerbong bersama istri saya," katanya sambil menggadeng sang istri seakan tidak mau lepas. Lucu juga melihat sepasang kakek-nenek yang masih saja mesra hingga kini :D

Nah, ceritanya kemarin kebetulan saya pulang ke rumah. Karena saya biasa naik ekonomi AC sedangkan kereta AC berikutnya masih jam setengah tujuh, akhirnya saya memilih naik pakuan yang jam 6 sore. Ibu saya di telepon terdengar cukup was-was saya mau pulang sendiri pada waktu prime time seperti itu. Padahal saya sendiri sebenarnya sudah terbiasa. Akhirnya beliau menyuruh saya untuk naik di gerbong yang khusus wanita dan beliau akhirnya lumayan bisa bernafas lega. Saat memasuki gerbong tersebut, saya mulai merasakan atmosfer yang berbeda. Memang benar, gerbong yang dikhususkan wanita ini terlihat lebih tertib dan lebih nyaman berada di dalamnya. Namun, masih saja ada beberapa pria yang suka "tersasar" masuk ke dalam gerbong khusus tersebut sehingga lagi-lagi harus diperingatkan oleh sekuriti. Tetapi secara keseluruhan, saya menjadi lebih nyaman apabila bila harus berpergian pulang-pergi, apalagi kalau harus terpaksa pulang malam.

Mengapa baru hanya ada di Ekonomi AC dan Pakuan?

Karena jujur, sebenarnya saya sangat mengharapkan gerbong khusus itupun diterapkan pada kereta Ekonomi. Apalagi kalau saya ketinggalan kereta, mau tidak mau harus menggunakan kereta Ekonomi, karena kereta AC dan Pakuan tidak lewat setiap saat. Sedangkan saya masih sedikit merasa was-was jika harus naik Ekonomi biasa terutama pada waktu prime time.

Analisis sementara yang bisa saya simpulkan sih.. Mungkin karena terlalu banyaknya peminat dari kereta ini yang masih sulit untuk diorganisir. Untuk kereta AC dan Pakuan saja masih banyak yang sering "kesasar", apalagi jika di Ekonomi? Well, saya berharap semoga gerbong khusus ini bisa secepatnya diterapkan di kereta Ekonomi.

Last, terimakasih untuk Kereta Api Commuter Jabodetabek atas fasilitas ini :)


DR

30.7.10

30 Juli 2008

Dear Eci,

Apa kabarmu di sana? Sekarang tepat dua tahun sepeninggal kamu.. Dan aku masih sering menangis jika teringat kamu. Aku mau nyari kamu, tapi harus ke mana? Kita begitu jauh dipisahkan oleh ruang dan waktu. Gak ada celah untuk kita bisa berjumpa lagi seperti dulu.

Dear Eci,

Mungkin ini jalan yang terbaik dari Tuhan untukmu. Untuk kita. Aku juga berusaha untuk menerima ini semua dengan hati yang ikhlas, meski kadang hati ini sulit menerimanya.

Dear Eci,

Mungkin kalau saat ini kamu masih bisa berdiri di hadapanku, aku pasti akan bertanya padamu, "Eci ambil kedokteran di mana?" Aku nggak pernah sekalipun lupa sama cita-cita kamu yang ingin menjadi seorang dokter. Aku suka dengan kegigihan kamu dalam memperjuangkan dan mewujudkan cita-cita kamu. Tapi sekarang, cita-cita hanyalah tinggal cita-cita. Bahkan kamu pergi sebelum hal tersebut sempat terwujud.

Dear Eci,

Aku merindukan kamu.. Apa kamu rindu sama aku? Aku yakin, kalau kamu berada di sini, pasti kamu akan bangga dengan kami, sahabat-sahabatmu, yang kini telah berhasil lulus dari SMA. Meskipun kamu nggak bisa ikut bersama kami di sini, tenang aja ya sayang, kami janji, kami akan meneruskan cita-cita kamu..

Dear Eci,

Di mana pun kamu berada sekarang, aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu. Semoga Allah senantiasa menyayangi dan melindungi kamu. Semoga juga jalanmu selalu diterangi oleh para malaikat-malaikat ke tempat yang paling indah di sana.

Dear Eci,

Kapan-kapan main ya ke mimpi aku. Kamu udah jarang main sekarang. Setiap aku mimpiin kamu, aku selalu merasa dan berharap bahwa kamu masih ada di sini. Tapi ternyata, kamu memang masih ada. Kamu selalu ada dan selalu hidup bersama kami, di hati kami, orang-orang yang mencintaimu..

Dear Eci,

Gak ada lagi yang bisa mempersatukan kita kini, kecuali doa kami padamu, yang akan terus menerangi jalan kamu..

Dear Eci,

Selamat jalan sayang, selamat jalan kawan.


DR

22.7.10

Ketika Gagal Menyapa


Hidup ini memang kompetisi, pasti ada saat di mana seseorang menang atau kalah, sukses atau belum sukses, berhasil atau gagal. Semua pasti pernah mengalaminya. Cerita orang-orang di sekitar gue membuat gue tergerak untuk menulis postingan ini. Ada beberapa hal yang ingin gue bagi tentang hal ini, semoga bisa bermanfaat bagi semua.

Seperti kita ketahui, sebagai muslim, untuk mencapai suatu tujuan dibutuhkan 3 hal pokok, yaitu doa, usaha, dan tawakkal.

Sekarang bakal kita bahas satu persatu.

Doa


Nah, gue pernah denger salah seorang guru konseling gue bilang gini;

Bayangkan, kalau kita mau berhadapan dengan kepala sekolah. Tentu kita gak mau kan kalau tampil dengan pakaian acak-acakan, dan kita belum menyiapkan materi apa yang bakal kita bicarakan dengan kepala sekolah tersebut. Udah gitu, kita harus merangkai kata-kata agar kita nggak terbata-bata, dsb.

Kalau kita mau berhadapan dengan kepala sekolah saja memerlukan berbagai persiapan, bagaimana apabila kita mau berhadapan, meminta, dan memohon pada Sang Pencipta? Dan gue pernah diajari beberapa adab doa kepada Allah SWT, Insya Allah dengan izin Allah, doa kita akan didengar:
  • Sebelum berdoa, sebaiknya kita bersuci terlebih dahulu, alias berwudhu
  • Setelah itu, laksanakan shalat dan berdzikir
  • Baru memohon dan berdoa kepada Sang Ilahi
  • Banyak melakukan doa pada waktu-waktu orang sedang sibuk maupun terlelap, seperti waktu dhuha dan saat shalat tahajjud
  • Berdoa pada saat sujud dalam shalat
Nah, setelah itu bagaimana apabila doa kita masih belum juga dikabulkan? Tenang, waktu itu, gue juga pernah ikut sebuah ceramah yang sampai saat ini gue masih ingat dengan jelas seperti apa isinya. Ustadz tersebut berkata seperti ini:

Ada 3 kemungkinan atas segala doa yang kita panjatkan,
Pertama, Ya.
Kedua, Allah menyimpannya dan menjadikan doa kita sebagai penolak dari segala marabahaya
Ketiga, Allah akan menyimpannya dan menjadikan doa kita sebagai penolong kita di hari akhir nanti. Insya Allah..

Nah, jadi jangan takut kalau doa kita nggak akan didenger, Insya Allah, karena Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang selalu meminta.
Kalaupun belum dikabulkan, setidaknya kita udah punya 'tabungan' buat nanti :)

Poin kedua yaitu berusaha. Tentu hal ini juga penting. Karena ketiga hal tersebut nggak akan ada artinya kalau nggak seimbang alias berat sebelah.

"Hidup ini semuanya berasaskan timbal balik. If you give more effort, you'll get more result."

Gue pernah baca sebuah buku yang berjudul Unik tapi Fakta karangan Tegar Satria tentang "Orang yang Selalu Gagal. Orang tersebut, dari tahun 1831 hingga 1860 ia selalu mengalami kegagalan seperti bangkrut dalam usaha, ditinggal istri, kalah dalam kontes pidato, kalah dalam pemilihan umum, dan sebagainya dalam kurun waktu tersebut. Tapi tahukah kamu, pada akhirnya pada tahun 1860 ia menjadi orang nomor satu di Amerika? Ya, dia adalah Abraham Lincoln, presiden ke-16 Amerika Serikat, yang akhirnya dirinya diabadikan dalam Lincoln Memorial, D.C.

"Apabila kamu telah memulai sesuatu, tidak ada jalan lain kecuali menghadapinya. Apabila kamu gagal, jangan pernah berhenti di titik tersebut, karena siapa tahu, titik berikutnya akan menjadi keberhasilanmu."

Poin terpenting ketiga selain hal tersebut di atas adalah: tawakkal, alias berserah diri kepada Allah. Setelah berusaha dan berdoa, tidak ada cara lain kecuali berserah diri kepada yang Maha Penguasa. Bagaimana kalau masih gagal juga? Well, ya, hanya ada satu jalan, yaitu ikhlas..

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya." (QS. Annisa: 125)

21.7.10

H-10

10 hari lagi.
It seems like a long time.
Waiting for months for that day.
But, when the day nearly comes,
......
I feel so empty.

Mungkin Bogor-Depok bukan jarak yang jauh untuk sebuah kepergian. But I can feel the distance. Terserah mereka mau berkata apa. Mungkin aku memang cengeng. Ya. Mungkin aku memang manja. Ya. Menghadapi hari yang sebentar lagi akan tiba, menghadapi hari kepindahanku, menghadapi fase hidup yang baru.

Baru saja aku berkata, "Why should I leave? It just takes 20 minutes from here." Tapi aku tahu, 'kehidupan' yang sesungguhnya telah menanti.

Dua bisikan terus berdengung dalam hatiku. Aku yakin aku ingin terus tetap berada di sini, berada di sekitar mereka yang menyayangiku. Suasana hangat, gelak tawa, serta ceria, diselingi sedikit pertentangan dan kepedihan. Tapi, aku juga ingin terus berjalan maju, menyusul kawanku dan berjalan beriringan bersamanya pada jalur kami masing-masing, menggapai satu titik yang sama. Masa depan.

Aku pergi.
Tapi aku akan kembali.

Pada saat itu tiba,
Siapkanlah senyuman terbaikmu
Untuk menyambutku.


for beloved people, especially for my mom.


DR

19.7.10

L

Ketika hidup memunculkan taringnya,
Berjalanlah di atasnya, dan nikmatilah pedihnya.

Ketika rodamu berhenti di bawah,
Merangkaklah naik dan putarlah ia hingga berada di titik tertinggi.

Ketika jurang membelah di antaramu,
Jembatanilah dirimu sendiri untuk bisa sampai ke seberang.

Ketika kau berada di puncak,
tengoklah ke bawah.
Resapi seberapa keras kau mencoba untuk bisa berada di sana.

DR

24.6.10

Keberatan



Suatu hari gue pernah membuat status di account pribadi FB gue sendiri yang kira-kira berbunyi seperti ini:

"Do not make statements that could provoke others. Respect, please."

Bukan tanpa alasan gue membuat status kayak gini. Itu karena gue udah "gerah" banget bacain status orang yang
saenae' dewe' nulis tanpa memikirkan apa tanggapan orang lain. Fine lah kalau dia cuma mau mengungkapan pikirannya, tapi gue rasa status FB bukanlah sarana yang tepat buat mengeluarkan semua pikiran lo, terutama apa yang berkaitan dengan keidealisan atau berbau religius.

Karena gak semua orang berpikiran sama seperti mereka.

Gak semua orang berpikir statement yang ia anggap bercanda itu lucu.

Gak semua orang setuju dengan statement yang ia lontarkan.

Nggak.

Karena masing-masing pribadi pasti punya nilai-nilai sendiri yang gak bisa diganggu gugat. Dan gue sadar hal itu suatu saat pasti akan bergesekan kalau seseorang menyampaikannya secara gak tepat, karena pasti akan adanya perbedaan sudut pandang dan keidealisan dalam diri masing-masing.

Sekali lagi, status FB itu bukan sarana yang tepat buat mengeluarkan statement yang seperti itu. Walaupun tulisan di sananya What's On Your Mind? Gak harus juga kan lo keluarin semuanya apa yang lo pikirkan.. Seperti kata gue tadi,
respect, please..
Karena singkatnya karakter dan keterbatasan space, pasti bakal menimbulkan banyak kesalahpahaman.

Seperti gue.

Gue contoh orang yang sedikit "terprovokasi" atas apa yang mereka tulis. Hm, kalau tentang hal apakah itu, pokoknya sangat menyinggung hal yang sangat sensitif.

*intermezzo..

Gue bingung kenapa bisa menulis tulisan seserius ini. Garang juga bacanya, hahaa.

Begitulah,
Beberapa hal yang gue pikirkan akhir-akhir ini.
Buat teman-teman sekalian, terima kasih pengertiannya.
Semoga gak terulang lagi.
Amin.

DR

21.6.10

Ketika..


Ketika aku ingin menulis,
I found
ZERO

Ketika aku sedang tidak mau menulis,
I found
HUNDREDS

Ah, hidup..


DR



When We Talk About the Past..



Dunia sudah gila
Atau aku yang lama-lama akan menggila?
Lembar demi lembar catatan tergores darah
Darah
Dan darah
Darah lagi..
Hanya warna merah yang tertinggal di sana
Atau
Catatan-catatan hitam
Yang semakin kelabu dimakan umur

Tertimbun bersama daun-daun yang busuk
Di kala musim berganti
Kembali pulang dengan sepotong kaki yang masih utuh
"Begini saja sudah untung.." katamu

***

Sok tau banget ya gue sok-sokan bikin puisi gitu. Anyway, gue sama sekali bukanlah seseorang yang sangat puitis. Bahkan kalau gue disuruh baca puisi, sampai kebelinger pun gue gak bakalan ngerti apa maksud dan tujuannya. Prinsip gue: kalau bisa ngomong secara langsung, kenapa harus pakai kiasan? (Prinsip orang yang ga ngerti literatur, sigh)


Nah, anehnya tadi tiba-tiba aja terpikir kata-kata itu. Kenapa? Ya nggak tau. Gue sendiri heran sama otak gue sendiri, tiba-tiba memikirkan sesuatu yang "nggak gue banget" dan jauh banget. Halah, udah lah. Bikin pusing sendiri aja. Sampai segini aja intermezzo-nya..

Yang ini juga aneh: gue tiba-tiba kepikiran sama sejarah. Padahal sejarah adalah pelajaran yang bukan termasuk dalam daftar pelajarn favorit gue. Sorry, no offense. Hanya menurut pendapat gue aja. Beberapa alasan simpel yang mungkin terdengar bodoh:


1.) Gue males bacanya
2.) Gue males ngapalnya

3.) Pusing sama tanggalnya
4.) Suka banyak beda pendapat dan versi

5.) Susah ngapalin namanya.


Gue jadi inget pait-paitnya pengalaman gue beberapa bulan lalu dalam nyiapin ujian universitas. Gue sampai rela browsing banyak-banyak demi mendapat banyak sumber, sampe gue beli beberapa buku acuan yang kira-kira mencakup semua materi. Pokoknya niat abis deh.


Kemudian..


SETELAH DIBACA KOK TERNYATA MENYENANGKAN? *jerit sendiri*


Haha, seru aja gimana ceritanya sampai sekarang ada beberapa negara yang masih "musuhan" ternyata akibat kejadian di masa lalu. Gimana ceritanya negara-negara adikuasa sekarang kini bisa menjadi bangsa besar, tentu bukan mustahil kalau ternyata dulu mereka dijajah oleh pemerintahan mereka sendiri.


Dan..

Istilah-istilah aneh yang gue jumpain di sana. Beberapa yang gue inget:


- Korean Boom (Lupa, yang pasti bukan demam K-Drama atau K-Pop)
- Oil Boom (Kalau nggak salah surplus minyak di Indonesia)

- Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli, konflik internal dalam tubuh PDI yang menyebabkan terpecahnya partai ini -- sorry kalau salah, banyak yang udah lupa)

- Malari (Malapetaka 15 Januari 1974, demo mahasiswa yang menentang kedatangan PM Jepang)

- Mafia Berkeley (Entah kenapa setiap kali nama ini disebut gue jadi inget Edi Brokoli -- berusaha menyelenggarakan konsep ekonomi Trickle Down Effect)


Banyak banget deh istilah-istilah yang gue temui yang lebih "aneh" dari ini. Selalu bikin gue kebelinger bacanya. Baru ada nemu satu, udah muncul lagi istilah lainnya. Akhirnya yang sebelumnya terlupakan. Dan seterusnya..

Tapi..


Di balik itu..


Yang bikin gue miris, yah, anehnya sepanjang sejarah yang gue baca kenapa selaluu berisi tentang masalah, masalah, dan masalah. Konflik. Pertumpahan darah. Perang. Selalu begitu.


Tau Franz Ferdinand kan?
Ya, bener. Emang nama band.

Tapi jauh sebelum band itu berdiri, Franz Ferdinand adalah nama seorang putra mahkota berkebangsaan Austria-Hongaria yang dibunuh oleh pasukan Serbia.

Dan percaya atau nggak, kematian putra mahkota ini yang menjadi salah satu penyebab meletusnya Perang Dunia I.

*geleng-geleng kepala*



Dan PD I memakan korban sebanyak.. *jengjeng*
Jumlah korban
Tewas:
5.520.000
Terluka:
Hilang: 4.121.000
12.831.000
Tewas:
4.386.000
Terluka: 8.388.000
Hilang: 3.629.000

Left: Triple Etente & friends

Right: Triple Alliante & friends

Courtesy of Wikipedia


Luar biasa..

Dan itu baru secuil dari apa yang gue baca, aslinya: lebih buaanyak lagi pastinya.

Pertanyaannya:
Kenapa sejarah banyak menceritakan sisi kelamnya?

Jawaban:
Karena itulah hidup. Ga ada yang namanya lawan kata, yang ada hanya pasangan.
Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasangan. Sisi gelap dan sisi terang bukan merupakan suatu lawan kata, melainkan pasangan. Di mana ada sisi gelap, di sana pasti akan muncul juga sisi terang.

Yang gue sorot di sini memang hanya beberapa bagian dari sisi "gelap" sejarah yang udah gue pelajari belakang. Tapi tentunya, ia pun pasti pernah menorehkan tinta emas dalam lembarannya..

DR

Shadow


Aku. Berdiam diri di sudut bayangan yang tak kunjung menjadi sosok nyata. Aku tergeletak begitu saja di sudut bersama tumpukan rongsokan. Apa kamu tahu sebentar lagi akupun akan menjadi begitu? Meskipun aku ada tetapi kamu toh tak peduli. Meskipun aku memohon toh kamu tak mau melihat. Meskipun aku menjerit toh kamu menutup telinga. Aku tahu kamu tahu. Aku tahu kamu tahu bahwa aku ada.


Tapi tak ada salahnya juga menjadi bayangan.


Setidaknya aku lebih baik darimu.


DR

14.6.10

Gadisnya, Bukan Gadisku


Setiap pukul 15.00 tiba, ia tidak pernah lupa untuk mengunjungi tempat itu. Sebuah foodcourt yang terletak di lantai 2 sebuah pusat perbelanjaan. Di sudut yang sama dan tempat yang sama. Ia sedang menunggu gadisnya sambil ditemani oleh secangkir teh hangat.

Tak lama, gadis yang ia tunggu akhirnya datang juga. Ia keluar dari gerbang sekolah yang terletak persis di sebelah pusat perbelanjaan tersebut. Ia memerhatikan gadisnya dengan seksama saat ia menyeberang jalan menuju sebuah halte bus.


Ia menerawang sambil sesekali melirik gadis kecilnya yang terduduk sendiri di bangku halte. Gadis yang selalu membuat darahnya berdesir walau hanya dengan menatap wajahnya. Gadis yang membuatnya tidak perlu berpikir panjang untuk menyadari bahwa ia telah jatuh cinta padanya. Setelah sepuluh tahun mereka tidak bertemu. Ah, tidak.. Ia bahkan selalu mencintainya setelah sepuluh tahun tidak bertemu.


Dan di sinilah tempat terbaik di mana ia bisa mengawasi gadisnya secara jelas. Menemaninya yang sedang sendiri di sana. Ah, bukan, justru ialah yang ditemani oleh gadis tersebut. Ditemani oleh gerak-geriknya yang mampu melumpuhkan seluruh syaraf tubuh saking girangnya. Meskipun begitu, ini merupakan momen terbaik yang selalu ia nantikan. Lima belas menit terbaik dalam seharian ini. Memerhatikan gadis tersebut, walau hanya dari jarak pandang yang cukup jauh. Tanpa kontak. Tanpa tatap mata. Tanpa pertemuan. Tetapi baginya, semua itu terasa begitu indah.


Sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba memenuhi pandangannya. Menghalangi pandangan matanya yang sedang hanyut dalam keindahan wajah sang gadis. Mobil itu lagi, yang selalu menghancurkan momen indahnya bersama gadisnya. Lagi-lagi, ia pun harus menelan kekecewaan itu. Saat tubuh mungil itu digandeng oleh sosok yang keluar dari mobil tersebut. Seseorang. Dan itu bukanlah dirinya. Ia tidak pernah melihat wajah gadisnya secantik ini saat gadisnya bertemu dengan sosok itu. Kini ia tahu pasti bahwa kini hati gadisnya telah memilih. Dan lagi-lagi, itu bukan dirinya..


Ia beranjak dari tempatnya, meninggalkan secangkir teh yang telah kosong.


DR

Overheard


Di sebuah bus antarkota di sebuah siang yang cerah.. (baca: gerah)


Dua mbak-mbak duduk persis di belakang gue.
Mbak 1 : SELAMAT HARI JADI BOGOR YANG KE-528 (lagi baca spanduk ceritanya)
Mbak 2 : Wah, Bogor udah 500 tahun lebih.
Mbak 1 : Iyaya, udah berapa abad sih?
Mbak 2 : 1 abad kan 100 tahun. Jadi kira-kira 5 abad.
Mbak 1 : Jakarta juga udah tua, ya.
Mbak 2 : Iya, namanya aja udah banyak ganti-ganti.
Mbak 1 : Betul, dari Batavia.. terus apan lagi ya? :berenti: Terus, Java juga pernah.. :lanjutnya dengan nada sok tahu:
Gue : (dalem hati) Java itu bahasa Inggrisnya Jawa, Mbak.
Mbak 2 : Tapi Bogor gak pernah ganti nama ya.
Mbak 1 : Iya gak pernah, dari dulu namanya Bogor terus.. :masih dengan nada sok tahu:
Gue : (masih dalem hati) BOGOR itu dulunya BUITENZORG loh, Mbak.

***

Lagi-lagi di sebuah siang yang terik.

Gue : Mau ke mana nih kita?
A : Gak tau.
Gue : Yang pasti dong.
A : Gak tau ah, ke mana foot, eh foots melangkah aja.
Gue : .....

***

Kenapa semua latar belakangnya siang? Saya juga nggak tahu.

Temen gue, F : Masa kemarin gue ketemu sama temen nyokap gue, terus dia bilang gini masa..
Gue : :menunggu:
F : Aduh, si A'a sekarang udah gede ya, udah bujangan..

DR

6.6.10

Decision


Pak Kadir duduk di hadapan putrinya. Ia memerhatikan Citra, putri semata wayangnya, dengan seksama. Ia masih sama seperti Citra yang dulu. Hanya ada satu yang berbeda sekarang, yaitu tanda kehidupan yang terlihat mulai menipis di wajahnya. Citra mungkin tak tahu bahwa ayahnya sedang gusar. Citra mungkin kini sedang asyik terbang atau bermain di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun. Raganya memang di sini. Tetapi separuh dirinya telah pergi. Tanpa sadar, Pak Kadir menitikkan setitik air dari sudut matanya. Ia bangkit dan mencium kening putrinya mungkin untuk yang terakhir kali. Ia sudah memutuskan..

Tak lama berselang, Pak Kadir bisa merasakan bahwa Citra telah terbang meninggalkan raganya. Tak ada suara, tak ada kata. Hanya gurat matanya dan desah napasnya yang sarat akan kesedihan. Ia telah merelakan putrinya untuk bebas dari belenggu alat bantu kehidupan ini. Sejatinya, Citra mungkin telah pergi sejak sebulan yang lalu. Saat ia menutup matanya setelah peristiwa naas tersebut. Hanya saja mesin ini tetap mengingkannya untuk tetap ada, berusaha membuatnya bernapas sedikit lebih lama lagi.

Namun, semua cukup sampai di sini saja.

Pak Kadir memilih Citra untuk pergi.

Dan Citra memilih untuk pergi...


(dedicated to someone, somewhere..)


DR

24.5.10

Ketika "Teman" Tak Lagi Menjadi Teman


Yang namanya perjumpaan pasti bakalan berlanjut ke kisah-kisah yang dirangkai bareng. Entah itu pertemanan, persahabatan, bahkan pacaran. Dan yang pengen gue garisbawahi di sini adalah pertemanan. Ya, pertemanan.

Pasti kita pernah denger deh kata-kata yang begini: "Yang namanya mantan pacar itu ada. Tapi gak ada yang namanya mantan temen."

Emang sih, aneh juga. Masa pas kita ketemu seseorang di jalan, terus tiba-tiba bilang gini: "Eh itu kan mantan temen gue!" Aneh aja kedengerannya.

Gue sendiri dulu gak percaya bakalan ada istilah kayak begitu. Tapi, setelah dipikir-pikir.. well, it does exist.

Bukan karena siapa-siapa. Bukan karena si A gak mau lagi jadi temen si B, atau sebaliknya. But it just flows. Dan gue percaya bahwa waktu udah banyak merubah banyak orang.


Include myself, who knows? Let it be still a mystery, and I don't wanna know any further.

Just like the previous, let the time flows it out.

DR

16.5.10

Ada Apa dengan IPA dan IPS?


Buat yang pernah/sedang/akan mengalami SMA pasti bakalan ditanya sama hal-hal kayak gitu deh.

Buat yang pernah: "waktu SMA-nya ambil jurusan IPA apa IPS?"
Buat yang sedang: "jurusannya IPA apa IPS?"
Buat yang akan: "kalau udah SMA, mau ambil IPA apa IPS?"

Yah, beberapa pertanyaan gitu juga pernah gue alamin. Terutama pas masa-masa kelas sepuluh semester kedua deh, pasti banyak yang nanyain kayak gitu ke gue. Dan gue (meskipun) dengan mantap berkata: IPS,
pasti masih ada aja orang-orang yang kebingungan. Well, biasanya pertanyaan dilanjutkan dengan: kenapa gak ambil IPA aja?

Aneh, ada apa sih dengan pikiran orang-orang? Apa salah kalau jurusan IPS dijadikan sebagai cita-cita? Apa jurusan IPA lebih baikkah daripada IPS? Atau pemikiran-pemikiran orang-orang yang mendiskreditkan orang-orang IPS bahwa 'IPS adalah buangan anak-anak yang gak bisa masuk IPA' sudah tertanam kuat dalam pikiran mereka?

Nggak juga. Sri Mulyani. Selo Soemarjan. Koentjaraningrat. Contoh orang-orang sukses yang berlatar belakang dari ilmu sosial. Apa mereka buangan? Tentu aja nggak. Well, gak semua sih yang berpikiran seperti itu, tapi gue pribadi pernah merasakan bagaimana pemikiran orang-orang tersebut sampai ke telinga gue, meskipun secara tersirat. But I know what they really thought, at least, melalui mimik wajah dan kata-kata.

Gue sendiri
awalnya saat pertama kali masuk SMA, ngeliat anak-anak IPA tuh 'wah' gimana gitu ya (namanya juga freshman). Bahkan gue sempet ikutan ekskul KIR biar bisa masuk IPA (pikiran anak kelas 1 SMA-ga nyambung banget)

Tapi setelah dipikir-pikir, emang tujuan gue apa sih? Emang kalau gue masuk IPA menjamin kalau gue bakalan pinter? Dan apakah gue nyaman dengan semua itu? Dan ternyata saudara-saudara, semua nilai pelajaran fisika, kimia, biologi gue pas kelas 1 SMA jeblok semua, yah, walaupun gak ada nilai merah sih.. Tapi tetep aja. Malahan nilai ilmu sosial gue jauh lebih tinggi dibanding 3 mata pelajaran itu.

Akhirnya gue pun memutuskan untuk pindah haluan. Bukan karena faktor itu aja sih. Banyak. Salah satunya karena gue merasa, itu bukan bidang gue. Gue lebih suka membaca, menghafal, menulis, berdiskusi, meneliti gerak-gerik seseorang, belajar tentang kebudayaan. Dan itu jauh banget sama pelajaran IPA. Well, beruntung juga sih gue karena gue menemukan minat gue sebelum gue 'terjeblos' pada jalan yang salah.

Hari bagi rapot pun datang. Gue dinyatakan naik ke kelas sebelas (2 SMA).

Tapiiii yang bikin gue terbelalak adalah:
GURU GUE NULIS DI BAWAH RAPOTNYA:
NAIK KE KELAS 11 JURUSAN IPA.

What?! Gue langsung panik aja gitu. Terus gue bilang gini: "Bu, kok IPA?"
Terus, kata wali kelas gue: "Iya, nilai kamu mencukupi."
Gue: "Tapi saya nggak mau, Bu."
Wali Kelas: "Loh kok gak mau?"
Gue: "Iya, saya pengen di IPS."
Wali Kelas: *diem sebentar* "Yaudah, tapi jangan nyesel ya.."
Kata gue dalem hati, saya ga akan nyesel, Bu, enak aja. Kira-kira yaa begitulah haha.

Next.

Biasalah, anak sekolahan yang baru naek kelas pasti ribut nanyain ke temen-temennya yang laen: "gimana rapotnya? atau "masuk IPA/IPS?" dan sejenisnya deh. Sampai gue ketemu sama seorang temen gue yang notabene udah jadi anak IPA, nanyain hal di atas juga, dan gue jawab dengan jawaban yang biasa juga. Sampai pada akhirnya (tiba-tiba) dia ngomong gini: "Gue bersyukur deh, dari yang gue liat anak-anak yang masuk IPA baik-baik semua.." dan semakin menggelitik gue untuk gak berkata, "Jadi yang gak baik masuk IPS nih?" haha tapi akhirnya gue diem aja deh. Well, dari dua kalimat yang berdasarkan pengalaman gue di atas aja udah bikin gue berpikir: "Apaan sih? Gitu banget.." tapi ujung-ujungnya (lagi-lagi) gue simpen dalem hati aja deh dari pada ribut. Haha


Kalau gue, sebagai kalangan minoritas (duileh..) tetep aja harus berpikir objektif. Pintar atau nggaknya seseorang itu kan tergantung dirinya sendiri, bukan berdasarkan jurusan. Sukses nggaknya seseorang juga tergantung dianya. Gak ada masalah mau dicap orang bagaimana, yang penting kita nyaman dengan diri sendiri kan? Itu juga yang membuat gue memutuskan untuk bilang ke guru gue apa yang gue mau. Menyesal? Nggak sama sekali. Bahkan gue merasa nyaman banget dan merasa gue udah memilih jalan yang 'benar' berdasarkan apa kata hati gue.

On the other hand, jadi inget masa-masa kelas 3 SMA yang baru lewat (sebulan yang lalu). Masa-masanya daftar ke universitas, dan sekarang gantian deh pertanyaannya jadi gini: "Daftar ke mana aja? Ambil jurusan apa?" Yaa kira-kira begitulah pertanyaan sesama murid yang masih terlunta-lunta mencari sekolah -____-

Ada yang menarik di sini. Beberapa temen gue dari IPA, banyak yang ambil jurusan IPC, IPS malahan. Pasti tiap tahun ada aja yang gitu. Sebenernya gak ada masalah sih soal itu. Tapi gue mau berbagi sedikit nih.

Dulu, dulu loh, dulu ya.. Gue sempet berpikir gini, ngapain sih masuk IPA kalau ujung-ujungnya ambil lahan orang.. Yah, begitulah pemikiran sempit gue ini. Secara permukaan, emang terlihat seperti itu. Tapi, dengan banyak-banyak sharing dan berkomunikasi dengan mereka, gue malah jadi salut banget.

Bayangin aja, jarak antara UN sama ujian universitas kan mepet banget, tapi buktinya banyak dari mereka yang bisa lolos keduanya, dengan mata pelajaran yang sangat berbeda dan juga nggak sedikit loh jumlahnya. Ditambah lagi sama cerita mereka yang bilang, ada yang terpaksa masuk IPA karena disuruh orang tuanya lah, ada yang sebenarnya mereka gak suka sama pelajarannya lah.. Dan segala macem. Tapi mereka berani untuk mencoba 'menemukan' apa yang mereka inginkan. It's about time. Mungkin mereka sama dengan gue saat gue masih kelas 1 dulu, bedanya mereka baru menemukan keinginan mereka yang sebenarnya saat ini..

Toh, nggak ada yang melarang mereka juga kan untuk mengambil jurusan di universitas yang sama sekali berbeda dengan jurusan mereka saat SMA? Bahkan undang-undang pun memperbolehkan. Both science and social students are the same. Anak IPA boleh ambil jurusan IPS, begitu juga sebaliknya. Fair kan?

Masalahnya.. kebanyakan dari kita sekarang malah sibuk protes bilang bahwa mereka ambil lahan orang lain. Hey, it's their rights, isn't it? Yang kita butuhkan sekarang hanyalah meningkatkan kualitas diri dan memiliki kemampuan bersaing. Kalau orang-orang yang berasal dari latar belakang yang sama sekali jauh aja bisa, masa kita nggak?


DR

14.5.10

Supergranny

Semalem gue mimpi..

Gue bertemu sama eyang gue..

Eyang. Yang udah pergi ninggalin gue sejak 2 tahun yang lalu. Terasa begitu lama, tapi begitu cepat pula. Entah kenapa tiba-tiba beliau muncul dan hadir dalam mimpi gue kemarin. Indah banget. Walaupun hanya sesaat, sekejap, but I can feel that's so real.

Dan gue bisa merasakan betapa sedih dan rindunya saat beliau harus pergi lagi dan menghilang entah kemana. Semuanya terjadi itu aja dan bener-bener terasa seperti sesungguhnya.

And I realize that, I miss her so badly..

Kalau boleh dibilang, semua perjuangan gue selama ini. Di sekolah, kursus, privat, bahkan belajar bareng sama temen-temen, demi mencapai semua impian gue.. dan juga demi eyang. She gave me much spirit than I expected.

Let's talk about this further.

Eyang adalah seorang sarjana lulusan UPI di jurusan Bahasa Inggris. Beliau sempat mengajar di sekolah-sekolah di Bandung sampai akhirnya beliau pindah ke Jakarta. Usianya yang sudah memasuki 70-an tidak menyurutkan beliau untuk terus belajar. Membaca. Mencari ilmu. Bahkan sampai akhir hayatnya pun, beliau tidak pikun sedikitpun dan masih sangat mengingat kami semua.

Sejak kecil, gue emang suka belajar bahasa Inggris sama eyang. Seminggu sekali gue dateng ke rumahnya dan minta diajari dari dasar. Bahkan bukunya pun masih gue simpen sampai sekarang.

Bisa dibilang, gue ini adalah cucu terdekat beliau. Karena ya, setiap minggu gue selalu nginep di rumahnya, sampai beliau mengembuskan nafas terakhirnya.. Dan entah sejak kapan, eyang berharap gue bisa mengikuti jejak beliau. Selain itu, gue pun adalah cucu terakhirnya dan karena sepupu-sepupu gue rata-rata udah pada kuliah, bahkan ada yang udah kerja, tapi gak ada seorang pun yang mengikuti jejaknya.

Akhirnya, sampai pada saat beliau sudah mau 'pergi', semua, dan setiap keluarga, masing-masing diberi wasiat. Termasuk gue. Beliau bener-bener berharap dan menegaskan ke gue kalau beliau ingin gue sepertinya. Bahkan semua buku-buku literatur, novel, conversation, sampai semua kaset yang berhubungan sama bahasa dan sastra Inggris beliau kasihin ke gue. Gak nanggung-nanggung, DUA lemari semuanya buat gue.

Dan entah juga sejak kapan, tiba-tiba keinginan gue yang ingin jadi psikolog ilang begitu aja. Eh beneran loh. Padahal dari gue SMP gue pengen banget jadi psikolog, karena menurut gue menyenangkan bisa memahami tingkah laku manusia sampai ke detail-detailnya. Tapi layaknya air yang dipanasin, semuanya menguap begitu aja.

Setelah dipikir-pikir, baca buku dan menulis emang hobi gue sejak dulu. Bahkan koleksi buku gue pun nggak nanggung-nanggung, gue punya 1 lemari 5 susun dan 2 lemari 3 susun yang semuanya penuh sama buku. Dan kalau gue bisa mengembangkan semua itu dengan pendidikan formal, kenapa ngga? Dan gue mengingat-ingat cita-cita gue sejak SD, sebelum gue berpindah haluan ingin jadi psikolog. Gue pengen jadi.. sastrawan.

Hmm. Dan setelah itu, gak ada alesan lagi untuk nggak menjalankan amanah eyang gue. Mungkin emang bener.. Semangat eyang tertanam kuat di dalem hati gue, itu kata nyokap.

Sudah setahun ini gue berjuang buat itu semua, dan alhamdulillah, gue bisa menjaga amanah beliau sekarang. Gue bisa mengikuti jejaknya dan ingiiin sekali seperti beliau yang haus akan pengetahuan. Semua keberhasilan gue ini gue persembahkan untuk eyang..

Inspiratif. Supportif. My greatest granny ever.

Dan gue berharap beliau bisa tersenyum atas semua ini.. Oh God, I just wondering how does she feel if she knew about this. I really wondering, and I wanna know..

DR

Short Dialogue


Me : “Mas, enakan masa SMA apa kuliah?”
Him : “SMA-lah, anak SMA mah gak perlu mikir apa-apa.”
Me : “Nggak juga ah, buktinya harus mikirin mau kuliah di mana. Pusing tau!”
Him : “Iya, ‘cuma’ mikirin mau kuliah DI MANA. Kalau udah kuliah kamu harus mikir, mau hidup GIMANA.”
Me : “…..”

this is the short dialogue between my brother and I, few months ago.


DR

8.5.10

Endless Surprises

SUBHANALLAH.. kejutan seakan datang bertubi-tubi bulan ini bagi gue. pertama, gue gak nyangka banget gue bisa diterima di UNPAD jurusan Sastra Inggris, pilihan pertama gue. gue udah gak mikirin lagi deh yang namanya UI-UI-an. mungkin memang di sana adalah rejeki dan jodoh gue.

dan kemarin gue di-sms temen gue kalau hari ini adalah pengumuman SIMAK UI. gue bingung dong, "bukannya masih minggu depan ya?" dan gue santai-santai aja, siapa tau salah liat (haha) eh ternyata pas gue buka webnya kemarin, beneran jadi hari ini. langsung deh deg-degan, keringet dingin, gak bisa tidur, saking deg-degan dan excitednya.

tapi semua itu gue pasrahin aja, soalnya gue gak yakin keterima. masalahnya, dari 120 soal, yang gue jawab cuma 58. mantap gak tuh? gue udah hopeless dan bilang gini ke temen gue: "paling gak ada nomer gue di koran."

eeeh pagi-pagi tadi ternyata nyokap udah nungguin tukang koran dari jam 5 subuh! ampun, gue aja belum bangun. terus pas jam 6 nya gue dibangunin, kata nyokap gimana nih tukang korannya belum dateng. dalem hati gue pikir, bodo amat. emang bukan jodoh gue kali. haha

kemudian gue ditelepon sama temen gue. dia udah beli korannya dan diterima di D3. beuh, makin ciut aja itu mah gue. gak akan ada.. gak akan ada.. kata gue. emang rejeki gue di unpad, gue terus ngulang kata-kata itu dalem hati. terus temen gue nyuruh gue nyatetin tuh nomer ujian biar dia nanti yang liatin. eh buset, kata gue dalem hati. ada juga mentok-mentok dapet D3 deuh, kata gue dalam hati.

sampai tiba-tiba temen gue bilang: "ADA! DI SASTRA INGGRIS" hahaha modyar mimpi apa gue semalem? Ya Allah, bercanda ini, kata gue dalem hati. gue keukeuh gak percaya mau buktiin akhirnya gue nyegat lagi tuh tukang koran sampe jam 7, akhirnya dateng juga, dan bener dong NOMER GUE ADA DI URUTAN KELIMA SASTRA INGGRIS.

bodohnya lagi, gue masih belum percaya. gue pengen nunggu sampe pengumuman di webnya ada, dan.. ALHAMDULILLAH. benar ternyata saudara-saudara. saya tidak sedang bermimpi.

Subhanallah. Alhamdulillah. Allahuakbar. gue gak nyangka banget bakalan dapet kejutan bertubi-tubi kayak gini. apalagi beberapa hari belakangan gue udah ngerelain UI. gue udah mantep bakalan kuliah di UNPAD. nyokap udah nanya-nanya kosan segala ke sodara-sodara gue di sana. ternyata Allah memberikan gue sesuatu yang lebih dan saaaangat lebih dari yang gue duga :)

sekarang kalau di suruh milih, gue bakalan prefer ke UI karena deket dan gue gak bisa jauh dari orang tua. kemarin-kemarin sebelum pengumuman nyokap udah ngewanti-wanti aja gimana kalau gue di Bandung sendirian, kalau pengen ketemu nyokap, kalau ada apa-apa segala macem. ternyata Allah memberi jawabannya sekarang. Allahuakbar :)

yang bikin gue agak malu dan, ehem, sedikit berbangga, nyokap gw langsung seneeeeng banget dan ngasih tau sodara-sodara gue. hihi. ajaib ya, gue seneng bangeeet bisa diterima di UI. tapi lebih seneng lagi saat liat kedua orang tua gue bangga, nyelametin gue sambil tersenyum. duh, gilaaa gak bisa dibayangkan banget deh senengnya.

next.

kejutan selanjutnya adalah..

saat nyokap gue ngasih tau sodara-sodara gue, termasuk bude gue, tiba-tiba beliau (bude) nyaranin gini: "sambil nunggu kuliah, les aja di TBI, sekalian biar ada persiapan. mintanya yang native speaker. walaupun agak lebih mahal, tapi gak apa-apa, biar saya semua yang nanggung."

Ya Allah.. kejutan apa lagi coba ini?

*sujud syukur*

btw, congrats buat yang keterima juga. buat yang belum.. masih banyak kesempatan :)

regards,

DR

29.4.10

Gak Lulus = Jujur (?)

Tentunya kita semua tahu bahwa kemarin adalah hari kelulusan bagi siswa-siswi SMA. Termasuk gue, bangun pagi-pagi demi menunggu tukang koran, tidak sabar membolak balik isi halaman, dan menyortir nomor-nomor ujian yang tertera di sana.

Girang luar biasa pas gue menemukan nomor ujian gue tertera di sana, berada di antara nomor-nomor ujian lainnya yang lulus. Semua teman-teman gue pun bersuka cita, karena hasil jerih payah kami selama ini tidak sia-sia. Tiga tahun kami bersekolah di SMA ternyata membuahkan hasil. Sebuah kata LULUS yang sangat bermakna bagi kami.

Namun, di antara banyaknya siswa yang lulus, tentunya ada pula yang tidak lulus, atau istilah untuk tahun ini, mengulang. Di teve-teve, surat kabar, dan media lainnya mengatakan bahwa, penurunan angka kelulusan ini dikarenakan tingkat kejujuran yang semakin meninggi. Benarkah demikian? Jika, benar, yaa gue bersyukur banget.

Tapiii, pernyataan tersebut justru menimbulkan pertanyaan. Apabila tingkat kejujuran tahun ini meningkat dan presentasi siswa yang lulus menurun, apakah tahun-tahun sebelumnya mereka tidak begitu? Apakah dengan penurunan angka kelulusan membuktikan semakin banyak siswa yang jujur? Apakah dengan semakin banyaknya siswa yang lulus semakin rendah pula tingkat kejujuran mereka? Hal inilah yang senantiasa menjadi pertanyaan. Kejujuran.

Sejujurnya, Ujian Nasional bukanlah sebuah ujian yang hanya menguji kemampuan akademik kita, tetapi juga menguji mental dan kesiapan, ketelitian dalam hal teknis, juga.. kejujuran.

Sangat disayangkan memang, namun saat ini harus kita akui bahwa kejujuran merupakan sesuatu yang mahal dan langka, yang sulit kita temukan dalam masyarakat kompleks. Bisa kita saksikan sebulan yang lalu dari layar kaca, betapa mirisnya melihat siswa-siswi yang sedang melangsungkan ujian, menggunakan berbagai macam cara untuk HANYA demi untuk mendapatkan sebuah jawaban. Mereka tidak tahu betapa mahalnya harga dari sebuah kejujuran dibandingkan sebuah jawaban yang, belum tentu benar.

Lalu, siapa yang nanti mau memimpin bangsa ini, apabila dari saat ini saja bibit-bibit ketidakjujuran mulai ditanamkan? Siapa yang harus disalahkan saat ini? Diri sendirikah yang kurang bisa mengontrol? Guru-gurukah yang kurang pengawasan? Atau sistemkah yang masih kurang tegas?

Saat semua orang mungkin tidak peduli terhadapmu, saat semua sistem dan hukum carut-marut, membiarkan dirimu bergerak bebas tanpa batas, seharusnya diri KITA sendirilah yang memiliki tameng untuk menghindari hal tersebut.

Keimanan.

Berbagai macam jenis ujian telah dilangsungkan selama beberapa bulan ini. Dan dengan adanya ujian-ujian tersebut, justru semakin memperkuat hubungan gue dengan Tuhan. Gimana cara gue berusaha dan meminta, bagaimana gue diberikan ketenangan dan kemudahan yang luar biasa membuat gue percaya akan kemampuan gue sendiri dengan keridhaan Allah. Yakin deh, gak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini tanpa adanya niat dan kesempatan. Meskipun kita memiliki banyak sekali kesempatan, namun apabila niatan itu telah dihilangkan dari dalam hati kita, semua itu bisa kita bendung.

“Bangkit itu takut. Takut korupsi, takut memakan yang bukan haknya. Bangkit itu malu. Malu jadi benalu, malu karena minta melulu. Bangkit itu tidak ada. Tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa. Bangkit itu Aku. Untuk Indonesiaku.” Dedi Mizwar – Memaknai 100 Tahun Kebangkitan Nasional.

Kita bisa BANGKIT menjadi generasi yang penuh kejujuran.

Salam,

DR