Showing posts with label Thought. Show all posts
Showing posts with label Thought. Show all posts

14.1.11

Sudah Enam Bulan?

Bulan Januari telah tiba. Dan ini adalah post pertama gue lagi di sini setelah dua bulan gue nggak nulis. Well, sebetulnya gue punya blog lain yang lebih sering gue update, sampe-sampe yang satu ini jadi agak sedikit 'terbengkalai'. Alamatnya;

dillasays.tumblr.com

Alasannya sih karena tumblr is simpler. Well, tapi gue berusaha untuk meng-update kedua-duanya dengan lebih sering lagi deh, semoga aja kesampean hehe.

Nah, ada kabar apa hari ini? Gue pengen menceritakan pengalaman gue selama ini yang ternyata -secara tidak disadari- sudah melewati semester pertama gue kuliah. Gak kerasa? Banget! Dan kini gue sudah merasa sangat.sangat tua apabila bertemu pada remaja berseragam. Padahal umur kami gak jauh beda, tapi kenapa gue ngerasa tua banget ya? Karena agak gak penting, skip.

Di tengah bulan Januari yang labil ini (iya banget, kemarin hujan deres dan sekarang panas benderang), di saat para anak-anak sekolah sudah mulai kembali pada rutinitasnya, gue dan temen-temen satu kampus gue masih ongkang-ongkang kaki bangun siang, merasakan hidup sebagai pengangguran, dan hura-hura ke sana kemari akibat libur yang terlalu panjang. Bayangin, gue menyelesaikan UAS tanggal 23 Desember kemarin, berbarengan sama pembagian rapor anak sekolahan, tapi gue masih nunggu jadwal masuk sampe tanggal 7 Februari nanti. *ngitung kalender*.

Dan sekarang, bener-bener gak kerasa banget udah satu semester lagi aja gue di kampus ini. Udah banyak banget hal yang gue temuin dan gue bisa merasakan banyak perubahan dalam diri gue dan orang orang di sekitar gue, entah itu menjadi lebih dewasa, lebih sibuk, dan lebih-lebih lainnya. Dulu, enam bulan yang lalu, saat gue baru lulus SMA dan kuliah masih belum efektif, gue banyak-banyak mencari informasi tentang 'calon' kampus gue yang akhirnya sekarang jadi tempat gue menimba ilmu. Entah itu melalui websitenya langsung, via facebook, maupun follow twitternya. Nah, ada salah satu akun twitter --yang pasti bukan resmi-- mengenai fakta-fakta yang terjadi di kampus gue. Sebenarnya bukan fakta-fakta berarti juga, seperti 'tukang ayam kremes di kantin bernama Mas Roni' atau 'di kampus kita ada pengemis yang minta-minta pakai bahasa Inggris'. Sebenernya penting banget gak sih fakta kayak gitu dibandingin fakta aktual lainnya yang lebih 'wah' seperti 'Salah Seorang Mahasiswa Meraih Medali Emas pada Olimpiade'? Tapi justru fakta-fakta yang seperti itulah yang justru sangat terlihat 'segar' di mata gue karena kehidupan kampus semata-mata bukan hanya kehidupan akademik. Bukankah kita sebagai mahasiswa diharuskan memiliki kreativitas setinggi-tingginya? Dan justru hal-hal seperti itulah yang malah bikin kita 'melek' akan kehidupan bukan semata-mata cuma kuliah, dapet nilai bagus, dan selesai.

FYI, selama kuliah enam bulan di Sastra Inggris, gue gak pernah ngerasa kalau kemampuan berbahasa Inggris gue meningkat. Gue sendiri bingung apa yang salah dalam diri gue. Perhatiin aja, selama ini gue masih belum berani nulis dengan menggunakan full English, kalaupun berani itu karena kenekatan gue dan ditambah kesalahan grammar sana sini. Selain itu, gue masih belum sanggup baca buku berbahasa Inggris tebel-tebel, vocabulary gue masih sedikit, grammar gue masih ancur, dst.. dst.. Padahal SMA kemarin gue udah lulus kursus Inggris LIA gue dan sempet ngambil kelas conversation di lembaga lain dengan native speakers, tapi tetep aja gue gak merasakan ada perubahan dalam diri gue. Sementara kalau gue melihat temen-temen gue yang baru satu semester kuliah aja, gue seperti berada 'si buruk rupa di antara angsa'. Entah kenapa gue selalu merasa jiper kalau berada di antara temen-temen gue, entah itu mereka yang pernah jadi siswa pertukaran pelajar, pengalaman organisasi setumpuk, sampai ada yang pernah nerbitin novel. Gue sadar, kampus yang gue tempati sekarang ini bukan kampus sembarangan dengan isi SDM yang sembarangan juga. Tapi jujur, gue selalu merasa berada di kasta terendah di antara orang-orang yang potensial. Am I lack of self esteem? Yeah, might be. Mungkin enam bulan bukan waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan cepat dengan semua perubahan lingkungan.

Gue? Gue adalah seseorang yang super biasa. Pengalaman nulis gue baru sebatas di blog doang, pengalaman organisasi cuma ikutan volunteering AFS di Chapter Bogor, pengalaman abroad? Boro-boro! Pergi paling jauh aja ke Lombok, itu juga karena diajak sepupu gue. Intinya.. gue menjadi manusia paling gak berpengalaman di antara manusia-manusia yang memiliki segudang prestasi dan kegiatan.

Kalau ada yang bilang, "Ah, elu kan pinter, Dil." .. Sekarang saatnya gue bicara, gue gak pinter! Oke, gue akuin gue memang cukup rajin untuk semester awal gue ini. Kenapa? Karena gue masih berada dalam euforia karena akhirnya gue bisa diterima di jurusan impian gue, dan gue menyukai semua mata kuliah yang diajarkan. Walaupun ada salah satu matkul yang kelihatan sangat 'abstrak' dan susah dapet nilainya, gue nikmati karena gue cinta dengan apa yang gue pelajari. To be honest, gue bukan orang yang memiliki segudang prestasi dan pengalaman yang banyak, apalagi kemampuan. Gue gak bisa main musik, nyanyi, nari, dan gue bukan orang yang pintar berbicara di depan umum.

Walaupun begitu, gue bersyukur dengan semua ini. Dengan banyak belajar, gue jadi banyak baca, dan dengan banyak baca, gue sekarang banyak nulis. Gue seneng banget karena akhirnya gue bisa berkontribusi dalam hal tulisan di salah satu web untuk mendidik anak melalui cerita. Memang, di sana gue cuma menulis dua cerita, hanya dipublish melalui media internet, dan gue gak mendapat royalti apapun. Tapi kepuasan pada diri gue benar-benar menjadi bayaran setimpal bagi gue sendiri. Gue gak butuh duit, gue gak butuh uang untuk merasa berhasil. Dengan melakukan hal apa yang bisa gue kerjakan, dengan mengerjakan hal yang gue cintai, itu udah cukup menjadi bayaran tersendiri bagi diri gue. Tentu, hal itu masih sangat jauh dari hal apa yang gue cita-citakan. Gue selalu bermimpi suatu saat nanti akan menerbitkan buku gue sendiri dengan nama gue terpajang di cover depannya. Dan langkah gue tadi semoga menjadi pembuka jalan untuk ke depannya.

Akhir kata.. gue gak butuh popularitas dan materi untuk menjadi bahagia, gue cukup melakukan hal apa yang gue cintai, dan orang lain menghargai pilihan itu.

DR

3.9.10

Take A Look Around..

aku cuma bisa senyum kecut
memerhatikan mereka membungkuk dan memungut
sepanjang perjalanan hidupnya kepalanya terus menunduk
mencoba percaya kalau di bawah sana ada rezeki
jangan salah
sesekali ia pun mendongak
berharap ada tangan yang terjulur padanya
sementara di hadapannya berdiri gagah
istana para pembesar negeri
yang hidupnya selalu membusung dada
sementara di bawah kakinya ada wajah menderita

DR

22.7.10

Ketika Gagal Menyapa


Hidup ini memang kompetisi, pasti ada saat di mana seseorang menang atau kalah, sukses atau belum sukses, berhasil atau gagal. Semua pasti pernah mengalaminya. Cerita orang-orang di sekitar gue membuat gue tergerak untuk menulis postingan ini. Ada beberapa hal yang ingin gue bagi tentang hal ini, semoga bisa bermanfaat bagi semua.

Seperti kita ketahui, sebagai muslim, untuk mencapai suatu tujuan dibutuhkan 3 hal pokok, yaitu doa, usaha, dan tawakkal.

Sekarang bakal kita bahas satu persatu.

Doa


Nah, gue pernah denger salah seorang guru konseling gue bilang gini;

Bayangkan, kalau kita mau berhadapan dengan kepala sekolah. Tentu kita gak mau kan kalau tampil dengan pakaian acak-acakan, dan kita belum menyiapkan materi apa yang bakal kita bicarakan dengan kepala sekolah tersebut. Udah gitu, kita harus merangkai kata-kata agar kita nggak terbata-bata, dsb.

Kalau kita mau berhadapan dengan kepala sekolah saja memerlukan berbagai persiapan, bagaimana apabila kita mau berhadapan, meminta, dan memohon pada Sang Pencipta? Dan gue pernah diajari beberapa adab doa kepada Allah SWT, Insya Allah dengan izin Allah, doa kita akan didengar:
  • Sebelum berdoa, sebaiknya kita bersuci terlebih dahulu, alias berwudhu
  • Setelah itu, laksanakan shalat dan berdzikir
  • Baru memohon dan berdoa kepada Sang Ilahi
  • Banyak melakukan doa pada waktu-waktu orang sedang sibuk maupun terlelap, seperti waktu dhuha dan saat shalat tahajjud
  • Berdoa pada saat sujud dalam shalat
Nah, setelah itu bagaimana apabila doa kita masih belum juga dikabulkan? Tenang, waktu itu, gue juga pernah ikut sebuah ceramah yang sampai saat ini gue masih ingat dengan jelas seperti apa isinya. Ustadz tersebut berkata seperti ini:

Ada 3 kemungkinan atas segala doa yang kita panjatkan,
Pertama, Ya.
Kedua, Allah menyimpannya dan menjadikan doa kita sebagai penolak dari segala marabahaya
Ketiga, Allah akan menyimpannya dan menjadikan doa kita sebagai penolong kita di hari akhir nanti. Insya Allah..

Nah, jadi jangan takut kalau doa kita nggak akan didenger, Insya Allah, karena Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang selalu meminta.
Kalaupun belum dikabulkan, setidaknya kita udah punya 'tabungan' buat nanti :)

Poin kedua yaitu berusaha. Tentu hal ini juga penting. Karena ketiga hal tersebut nggak akan ada artinya kalau nggak seimbang alias berat sebelah.

"Hidup ini semuanya berasaskan timbal balik. If you give more effort, you'll get more result."

Gue pernah baca sebuah buku yang berjudul Unik tapi Fakta karangan Tegar Satria tentang "Orang yang Selalu Gagal. Orang tersebut, dari tahun 1831 hingga 1860 ia selalu mengalami kegagalan seperti bangkrut dalam usaha, ditinggal istri, kalah dalam kontes pidato, kalah dalam pemilihan umum, dan sebagainya dalam kurun waktu tersebut. Tapi tahukah kamu, pada akhirnya pada tahun 1860 ia menjadi orang nomor satu di Amerika? Ya, dia adalah Abraham Lincoln, presiden ke-16 Amerika Serikat, yang akhirnya dirinya diabadikan dalam Lincoln Memorial, D.C.

"Apabila kamu telah memulai sesuatu, tidak ada jalan lain kecuali menghadapinya. Apabila kamu gagal, jangan pernah berhenti di titik tersebut, karena siapa tahu, titik berikutnya akan menjadi keberhasilanmu."

Poin terpenting ketiga selain hal tersebut di atas adalah: tawakkal, alias berserah diri kepada Allah. Setelah berusaha dan berdoa, tidak ada cara lain kecuali berserah diri kepada yang Maha Penguasa. Bagaimana kalau masih gagal juga? Well, ya, hanya ada satu jalan, yaitu ikhlas..

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya." (QS. Annisa: 125)

21.7.10

H-10

10 hari lagi.
It seems like a long time.
Waiting for months for that day.
But, when the day nearly comes,
......
I feel so empty.

Mungkin Bogor-Depok bukan jarak yang jauh untuk sebuah kepergian. But I can feel the distance. Terserah mereka mau berkata apa. Mungkin aku memang cengeng. Ya. Mungkin aku memang manja. Ya. Menghadapi hari yang sebentar lagi akan tiba, menghadapi hari kepindahanku, menghadapi fase hidup yang baru.

Baru saja aku berkata, "Why should I leave? It just takes 20 minutes from here." Tapi aku tahu, 'kehidupan' yang sesungguhnya telah menanti.

Dua bisikan terus berdengung dalam hatiku. Aku yakin aku ingin terus tetap berada di sini, berada di sekitar mereka yang menyayangiku. Suasana hangat, gelak tawa, serta ceria, diselingi sedikit pertentangan dan kepedihan. Tapi, aku juga ingin terus berjalan maju, menyusul kawanku dan berjalan beriringan bersamanya pada jalur kami masing-masing, menggapai satu titik yang sama. Masa depan.

Aku pergi.
Tapi aku akan kembali.

Pada saat itu tiba,
Siapkanlah senyuman terbaikmu
Untuk menyambutku.


for beloved people, especially for my mom.


DR

30.6.10

A Long Journey..




Tahun 2010, kalau diingat-ingat hampir 2 tahun sudah gue memakai kerudung. Rasanya? "Kok baru bentar banget ya.."

Dipikir-pikir, perjalanan gue untuk berhijab seperti ini bener-bener sungguh gak terduga.

Gue sendiri selalu heran dengan apa yang udah gue raih sampai sekarang. It feels like it has its own scenario. Semuanya terjadi begitu aja. Rapi. Terencana. Unpredictable.

Keputusan gue berhijab sendiri pun sebenarnya sedikit banyak 'desakan' dari orang-orang di sekitar. I still remember my dialogue with my mom..

Mom: "Kapan kamu mau pakai kerudung?"
Gue: "Nanti.."
Mom: "Pokoknya nanti kalau kamu kuliah harus pakai jilbab ya."
Gue: "Iya, kalau udah lulus kuliah."

Kemudian gue berakhir dengan pelototan dan ceramah khas mama.

Cowok gue sendiri pun, berharap gue cepet-cepet pakai kerudung. Kakak laki-laki gue dan bokap, semuanya menanti kapan gue akan menutup aurat.. *sigh

Saat itulah gue mulai merasa frustasi. Banyak desakan dari orang-orang di sekitar, ditambah hati yang rasanya belum 'sreg' buat berubah. Gue sempet curhat sedikit sama nyokap gue tentang hal ini. Dan nyokap selalu bisa bikin gue tenang. "Kalau mau berubah, harus bener-bener dari dalem hati kamu.."

Di sisi lain, gue punya opportunity yang cukup 'besar' buat gue. Saat itu gue lagi mengikuti proses seleksi buat ngedapetin beasiswa untuk going and studying abroad. Seleksinya saaangat ketat, bahkan gue pun heran sendiri, gimana caranya bisa gue lolos buat ngikuti seleksi selanjutnya yang lebih ketat.

Saat itulah gue mulai berpikir. Terus-terusan gue berdoa semoga gue bisa ngedapetin beasiswa ini, bisa mendapat big opportunity to see the whole world with my own capability. Ngarep banget deh pokoknya. Tapi, lama-lama gue merasa, masa gue terus-terusan meminta sih tanpa ada 'feedback' yang bisa gue lakukan. Setelah cukup lama menimbang-nimbang dan bersemedi (gayaaa) gue memutuskan untuk.. Bernazar.

Yap. Gue nazar untuk berhijab kalau sampai gue lolos di seleksi ke-3. Gue janji. Wholeheartedly.

Dan akhirnya,
Alhamdulillah, gue lolos beserta tiga puluh temen-temen gue yang lainnya.

Janji gue pun segera gue penuhi. Seminggu setelah pengumuman, gue langsung melaksanakan nazar gue dengan menutup aurat. Sampai sekarang. Semoga selamanya..

Banyak banget perubahan yang gue alami setelah gue memutuskan untuk berhijab. Salah satunya, gue berusaha untuk menjaga attitude (meskipun belum bisa dibilang attitude gue udah baik sekarang) At least, i've tried. And i'm trying.

Benefit terkecil yang gue rasakan adalah, gue gak perlu ribet lagi sama poni gue yang nyebelin naudzubillah ini. Udah rambut gue tipis, jidat gue juga lumayan tidak sempit. Hahaa.. Jadi ribet sendiri kalau harus begitu. Juga, gak perlu ngurusin rambut sampe ribet-ribet. Abis keramas, langsung kerudungan dan cabut, gak perlu nunggu kering. Mau keramas seminggu sekali pun gak ada yang peduli ;p

Dan tanpa disadari, hal-hal sekecil itu ternyata sangat merepotkan sebelum gue memakai kerudung. Dan tentunya, sekarang gue merasa lebih 'nyaman' dan aman dengan diri gue yang sekarang.. It flows.

Mungkin sampai sekarang gue sendiri pun belum bisa benar-benar menjadi muslimah yang 'sesungguhnya'. Gue masih seneng make skinny jeans. Gue masih kurang bisa menjaga pandangan gue dengan lawan jenis. Gue masih belum bener make kerudung sesuai dengan aturan yang seharusnya. Dan lain sebagainya..

Setelah gue recap perjalanan gue tadi.. Gue jadi semakin terpacu untuk jangan pernah takut untuk berubah. Karena sebenarnya, musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Gue sendiri pernah mengalami gimana sulitnya untuk 'memulai'. Tapi yang harus kita lakukan cuma berpikir sejenak, menyelami isi hati, dan dengarkan apa kata hati kecil. Karena hati gak pernah bohong..

Gue sendiri masih suka teringat gue dulu yang 'sulit' untuk membuka hati gue. Tapi ternyata hidup punya skenarionya sendiri.. Setertutup apapun hati gue untuk mulai mencoba, toh ternyata Dia punya jalan-Nya sendiri untuk hidup gue.

Bagaimana dengan kabar beasiswa itu?

Gue gagal di seleksi nasional.

Sedih? Pastinya. Tapi gue gak pernah merasa menyesal untuk bernazar.
Karena gue udah memiliki 'sesuatu' yang jauh lebih berharga..

DR

24.6.10

Keberatan



Suatu hari gue pernah membuat status di account pribadi FB gue sendiri yang kira-kira berbunyi seperti ini:

"Do not make statements that could provoke others. Respect, please."

Bukan tanpa alasan gue membuat status kayak gini. Itu karena gue udah "gerah" banget bacain status orang yang
saenae' dewe' nulis tanpa memikirkan apa tanggapan orang lain. Fine lah kalau dia cuma mau mengungkapan pikirannya, tapi gue rasa status FB bukanlah sarana yang tepat buat mengeluarkan semua pikiran lo, terutama apa yang berkaitan dengan keidealisan atau berbau religius.

Karena gak semua orang berpikiran sama seperti mereka.

Gak semua orang berpikir statement yang ia anggap bercanda itu lucu.

Gak semua orang setuju dengan statement yang ia lontarkan.

Nggak.

Karena masing-masing pribadi pasti punya nilai-nilai sendiri yang gak bisa diganggu gugat. Dan gue sadar hal itu suatu saat pasti akan bergesekan kalau seseorang menyampaikannya secara gak tepat, karena pasti akan adanya perbedaan sudut pandang dan keidealisan dalam diri masing-masing.

Sekali lagi, status FB itu bukan sarana yang tepat buat mengeluarkan statement yang seperti itu. Walaupun tulisan di sananya What's On Your Mind? Gak harus juga kan lo keluarin semuanya apa yang lo pikirkan.. Seperti kata gue tadi,
respect, please..
Karena singkatnya karakter dan keterbatasan space, pasti bakal menimbulkan banyak kesalahpahaman.

Seperti gue.

Gue contoh orang yang sedikit "terprovokasi" atas apa yang mereka tulis. Hm, kalau tentang hal apakah itu, pokoknya sangat menyinggung hal yang sangat sensitif.

*intermezzo..

Gue bingung kenapa bisa menulis tulisan seserius ini. Garang juga bacanya, hahaa.

Begitulah,
Beberapa hal yang gue pikirkan akhir-akhir ini.
Buat teman-teman sekalian, terima kasih pengertiannya.
Semoga gak terulang lagi.
Amin.

DR

21.6.10

Ketika..


Ketika aku ingin menulis,
I found
ZERO

Ketika aku sedang tidak mau menulis,
I found
HUNDREDS

Ah, hidup..


DR



When We Talk About the Past..



Dunia sudah gila
Atau aku yang lama-lama akan menggila?
Lembar demi lembar catatan tergores darah
Darah
Dan darah
Darah lagi..
Hanya warna merah yang tertinggal di sana
Atau
Catatan-catatan hitam
Yang semakin kelabu dimakan umur

Tertimbun bersama daun-daun yang busuk
Di kala musim berganti
Kembali pulang dengan sepotong kaki yang masih utuh
"Begini saja sudah untung.." katamu

***

Sok tau banget ya gue sok-sokan bikin puisi gitu. Anyway, gue sama sekali bukanlah seseorang yang sangat puitis. Bahkan kalau gue disuruh baca puisi, sampai kebelinger pun gue gak bakalan ngerti apa maksud dan tujuannya. Prinsip gue: kalau bisa ngomong secara langsung, kenapa harus pakai kiasan? (Prinsip orang yang ga ngerti literatur, sigh)


Nah, anehnya tadi tiba-tiba aja terpikir kata-kata itu. Kenapa? Ya nggak tau. Gue sendiri heran sama otak gue sendiri, tiba-tiba memikirkan sesuatu yang "nggak gue banget" dan jauh banget. Halah, udah lah. Bikin pusing sendiri aja. Sampai segini aja intermezzo-nya..

Yang ini juga aneh: gue tiba-tiba kepikiran sama sejarah. Padahal sejarah adalah pelajaran yang bukan termasuk dalam daftar pelajarn favorit gue. Sorry, no offense. Hanya menurut pendapat gue aja. Beberapa alasan simpel yang mungkin terdengar bodoh:


1.) Gue males bacanya
2.) Gue males ngapalnya

3.) Pusing sama tanggalnya
4.) Suka banyak beda pendapat dan versi

5.) Susah ngapalin namanya.


Gue jadi inget pait-paitnya pengalaman gue beberapa bulan lalu dalam nyiapin ujian universitas. Gue sampai rela browsing banyak-banyak demi mendapat banyak sumber, sampe gue beli beberapa buku acuan yang kira-kira mencakup semua materi. Pokoknya niat abis deh.


Kemudian..


SETELAH DIBACA KOK TERNYATA MENYENANGKAN? *jerit sendiri*


Haha, seru aja gimana ceritanya sampai sekarang ada beberapa negara yang masih "musuhan" ternyata akibat kejadian di masa lalu. Gimana ceritanya negara-negara adikuasa sekarang kini bisa menjadi bangsa besar, tentu bukan mustahil kalau ternyata dulu mereka dijajah oleh pemerintahan mereka sendiri.


Dan..

Istilah-istilah aneh yang gue jumpain di sana. Beberapa yang gue inget:


- Korean Boom (Lupa, yang pasti bukan demam K-Drama atau K-Pop)
- Oil Boom (Kalau nggak salah surplus minyak di Indonesia)

- Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli, konflik internal dalam tubuh PDI yang menyebabkan terpecahnya partai ini -- sorry kalau salah, banyak yang udah lupa)

- Malari (Malapetaka 15 Januari 1974, demo mahasiswa yang menentang kedatangan PM Jepang)

- Mafia Berkeley (Entah kenapa setiap kali nama ini disebut gue jadi inget Edi Brokoli -- berusaha menyelenggarakan konsep ekonomi Trickle Down Effect)


Banyak banget deh istilah-istilah yang gue temui yang lebih "aneh" dari ini. Selalu bikin gue kebelinger bacanya. Baru ada nemu satu, udah muncul lagi istilah lainnya. Akhirnya yang sebelumnya terlupakan. Dan seterusnya..

Tapi..


Di balik itu..


Yang bikin gue miris, yah, anehnya sepanjang sejarah yang gue baca kenapa selaluu berisi tentang masalah, masalah, dan masalah. Konflik. Pertumpahan darah. Perang. Selalu begitu.


Tau Franz Ferdinand kan?
Ya, bener. Emang nama band.

Tapi jauh sebelum band itu berdiri, Franz Ferdinand adalah nama seorang putra mahkota berkebangsaan Austria-Hongaria yang dibunuh oleh pasukan Serbia.

Dan percaya atau nggak, kematian putra mahkota ini yang menjadi salah satu penyebab meletusnya Perang Dunia I.

*geleng-geleng kepala*



Dan PD I memakan korban sebanyak.. *jengjeng*
Jumlah korban
Tewas:
5.520.000
Terluka:
Hilang: 4.121.000
12.831.000
Tewas:
4.386.000
Terluka: 8.388.000
Hilang: 3.629.000

Left: Triple Etente & friends

Right: Triple Alliante & friends

Courtesy of Wikipedia


Luar biasa..

Dan itu baru secuil dari apa yang gue baca, aslinya: lebih buaanyak lagi pastinya.

Pertanyaannya:
Kenapa sejarah banyak menceritakan sisi kelamnya?

Jawaban:
Karena itulah hidup. Ga ada yang namanya lawan kata, yang ada hanya pasangan.
Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasangan. Sisi gelap dan sisi terang bukan merupakan suatu lawan kata, melainkan pasangan. Di mana ada sisi gelap, di sana pasti akan muncul juga sisi terang.

Yang gue sorot di sini memang hanya beberapa bagian dari sisi "gelap" sejarah yang udah gue pelajari belakang. Tapi tentunya, ia pun pasti pernah menorehkan tinta emas dalam lembarannya..

DR

Shadow


Aku. Berdiam diri di sudut bayangan yang tak kunjung menjadi sosok nyata. Aku tergeletak begitu saja di sudut bersama tumpukan rongsokan. Apa kamu tahu sebentar lagi akupun akan menjadi begitu? Meskipun aku ada tetapi kamu toh tak peduli. Meskipun aku memohon toh kamu tak mau melihat. Meskipun aku menjerit toh kamu menutup telinga. Aku tahu kamu tahu. Aku tahu kamu tahu bahwa aku ada.


Tapi tak ada salahnya juga menjadi bayangan.


Setidaknya aku lebih baik darimu.


DR

14.6.10

Gadisnya, Bukan Gadisku


Setiap pukul 15.00 tiba, ia tidak pernah lupa untuk mengunjungi tempat itu. Sebuah foodcourt yang terletak di lantai 2 sebuah pusat perbelanjaan. Di sudut yang sama dan tempat yang sama. Ia sedang menunggu gadisnya sambil ditemani oleh secangkir teh hangat.

Tak lama, gadis yang ia tunggu akhirnya datang juga. Ia keluar dari gerbang sekolah yang terletak persis di sebelah pusat perbelanjaan tersebut. Ia memerhatikan gadisnya dengan seksama saat ia menyeberang jalan menuju sebuah halte bus.


Ia menerawang sambil sesekali melirik gadis kecilnya yang terduduk sendiri di bangku halte. Gadis yang selalu membuat darahnya berdesir walau hanya dengan menatap wajahnya. Gadis yang membuatnya tidak perlu berpikir panjang untuk menyadari bahwa ia telah jatuh cinta padanya. Setelah sepuluh tahun mereka tidak bertemu. Ah, tidak.. Ia bahkan selalu mencintainya setelah sepuluh tahun tidak bertemu.


Dan di sinilah tempat terbaik di mana ia bisa mengawasi gadisnya secara jelas. Menemaninya yang sedang sendiri di sana. Ah, bukan, justru ialah yang ditemani oleh gadis tersebut. Ditemani oleh gerak-geriknya yang mampu melumpuhkan seluruh syaraf tubuh saking girangnya. Meskipun begitu, ini merupakan momen terbaik yang selalu ia nantikan. Lima belas menit terbaik dalam seharian ini. Memerhatikan gadis tersebut, walau hanya dari jarak pandang yang cukup jauh. Tanpa kontak. Tanpa tatap mata. Tanpa pertemuan. Tetapi baginya, semua itu terasa begitu indah.


Sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba memenuhi pandangannya. Menghalangi pandangan matanya yang sedang hanyut dalam keindahan wajah sang gadis. Mobil itu lagi, yang selalu menghancurkan momen indahnya bersama gadisnya. Lagi-lagi, ia pun harus menelan kekecewaan itu. Saat tubuh mungil itu digandeng oleh sosok yang keluar dari mobil tersebut. Seseorang. Dan itu bukanlah dirinya. Ia tidak pernah melihat wajah gadisnya secantik ini saat gadisnya bertemu dengan sosok itu. Kini ia tahu pasti bahwa kini hati gadisnya telah memilih. Dan lagi-lagi, itu bukan dirinya..


Ia beranjak dari tempatnya, meninggalkan secangkir teh yang telah kosong.


DR

24.5.10

Ketika "Teman" Tak Lagi Menjadi Teman


Yang namanya perjumpaan pasti bakalan berlanjut ke kisah-kisah yang dirangkai bareng. Entah itu pertemanan, persahabatan, bahkan pacaran. Dan yang pengen gue garisbawahi di sini adalah pertemanan. Ya, pertemanan.

Pasti kita pernah denger deh kata-kata yang begini: "Yang namanya mantan pacar itu ada. Tapi gak ada yang namanya mantan temen."

Emang sih, aneh juga. Masa pas kita ketemu seseorang di jalan, terus tiba-tiba bilang gini: "Eh itu kan mantan temen gue!" Aneh aja kedengerannya.

Gue sendiri dulu gak percaya bakalan ada istilah kayak begitu. Tapi, setelah dipikir-pikir.. well, it does exist.

Bukan karena siapa-siapa. Bukan karena si A gak mau lagi jadi temen si B, atau sebaliknya. But it just flows. Dan gue percaya bahwa waktu udah banyak merubah banyak orang.


Include myself, who knows? Let it be still a mystery, and I don't wanna know any further.

Just like the previous, let the time flows it out.

DR

16.5.10

Ada Apa dengan IPA dan IPS?


Buat yang pernah/sedang/akan mengalami SMA pasti bakalan ditanya sama hal-hal kayak gitu deh.

Buat yang pernah: "waktu SMA-nya ambil jurusan IPA apa IPS?"
Buat yang sedang: "jurusannya IPA apa IPS?"
Buat yang akan: "kalau udah SMA, mau ambil IPA apa IPS?"

Yah, beberapa pertanyaan gitu juga pernah gue alamin. Terutama pas masa-masa kelas sepuluh semester kedua deh, pasti banyak yang nanyain kayak gitu ke gue. Dan gue (meskipun) dengan mantap berkata: IPS,
pasti masih ada aja orang-orang yang kebingungan. Well, biasanya pertanyaan dilanjutkan dengan: kenapa gak ambil IPA aja?

Aneh, ada apa sih dengan pikiran orang-orang? Apa salah kalau jurusan IPS dijadikan sebagai cita-cita? Apa jurusan IPA lebih baikkah daripada IPS? Atau pemikiran-pemikiran orang-orang yang mendiskreditkan orang-orang IPS bahwa 'IPS adalah buangan anak-anak yang gak bisa masuk IPA' sudah tertanam kuat dalam pikiran mereka?

Nggak juga. Sri Mulyani. Selo Soemarjan. Koentjaraningrat. Contoh orang-orang sukses yang berlatar belakang dari ilmu sosial. Apa mereka buangan? Tentu aja nggak. Well, gak semua sih yang berpikiran seperti itu, tapi gue pribadi pernah merasakan bagaimana pemikiran orang-orang tersebut sampai ke telinga gue, meskipun secara tersirat. But I know what they really thought, at least, melalui mimik wajah dan kata-kata.

Gue sendiri
awalnya saat pertama kali masuk SMA, ngeliat anak-anak IPA tuh 'wah' gimana gitu ya (namanya juga freshman). Bahkan gue sempet ikutan ekskul KIR biar bisa masuk IPA (pikiran anak kelas 1 SMA-ga nyambung banget)

Tapi setelah dipikir-pikir, emang tujuan gue apa sih? Emang kalau gue masuk IPA menjamin kalau gue bakalan pinter? Dan apakah gue nyaman dengan semua itu? Dan ternyata saudara-saudara, semua nilai pelajaran fisika, kimia, biologi gue pas kelas 1 SMA jeblok semua, yah, walaupun gak ada nilai merah sih.. Tapi tetep aja. Malahan nilai ilmu sosial gue jauh lebih tinggi dibanding 3 mata pelajaran itu.

Akhirnya gue pun memutuskan untuk pindah haluan. Bukan karena faktor itu aja sih. Banyak. Salah satunya karena gue merasa, itu bukan bidang gue. Gue lebih suka membaca, menghafal, menulis, berdiskusi, meneliti gerak-gerik seseorang, belajar tentang kebudayaan. Dan itu jauh banget sama pelajaran IPA. Well, beruntung juga sih gue karena gue menemukan minat gue sebelum gue 'terjeblos' pada jalan yang salah.

Hari bagi rapot pun datang. Gue dinyatakan naik ke kelas sebelas (2 SMA).

Tapiiii yang bikin gue terbelalak adalah:
GURU GUE NULIS DI BAWAH RAPOTNYA:
NAIK KE KELAS 11 JURUSAN IPA.

What?! Gue langsung panik aja gitu. Terus gue bilang gini: "Bu, kok IPA?"
Terus, kata wali kelas gue: "Iya, nilai kamu mencukupi."
Gue: "Tapi saya nggak mau, Bu."
Wali Kelas: "Loh kok gak mau?"
Gue: "Iya, saya pengen di IPS."
Wali Kelas: *diem sebentar* "Yaudah, tapi jangan nyesel ya.."
Kata gue dalem hati, saya ga akan nyesel, Bu, enak aja. Kira-kira yaa begitulah haha.

Next.

Biasalah, anak sekolahan yang baru naek kelas pasti ribut nanyain ke temen-temennya yang laen: "gimana rapotnya? atau "masuk IPA/IPS?" dan sejenisnya deh. Sampai gue ketemu sama seorang temen gue yang notabene udah jadi anak IPA, nanyain hal di atas juga, dan gue jawab dengan jawaban yang biasa juga. Sampai pada akhirnya (tiba-tiba) dia ngomong gini: "Gue bersyukur deh, dari yang gue liat anak-anak yang masuk IPA baik-baik semua.." dan semakin menggelitik gue untuk gak berkata, "Jadi yang gak baik masuk IPS nih?" haha tapi akhirnya gue diem aja deh. Well, dari dua kalimat yang berdasarkan pengalaman gue di atas aja udah bikin gue berpikir: "Apaan sih? Gitu banget.." tapi ujung-ujungnya (lagi-lagi) gue simpen dalem hati aja deh dari pada ribut. Haha


Kalau gue, sebagai kalangan minoritas (duileh..) tetep aja harus berpikir objektif. Pintar atau nggaknya seseorang itu kan tergantung dirinya sendiri, bukan berdasarkan jurusan. Sukses nggaknya seseorang juga tergantung dianya. Gak ada masalah mau dicap orang bagaimana, yang penting kita nyaman dengan diri sendiri kan? Itu juga yang membuat gue memutuskan untuk bilang ke guru gue apa yang gue mau. Menyesal? Nggak sama sekali. Bahkan gue merasa nyaman banget dan merasa gue udah memilih jalan yang 'benar' berdasarkan apa kata hati gue.

On the other hand, jadi inget masa-masa kelas 3 SMA yang baru lewat (sebulan yang lalu). Masa-masanya daftar ke universitas, dan sekarang gantian deh pertanyaannya jadi gini: "Daftar ke mana aja? Ambil jurusan apa?" Yaa kira-kira begitulah pertanyaan sesama murid yang masih terlunta-lunta mencari sekolah -____-

Ada yang menarik di sini. Beberapa temen gue dari IPA, banyak yang ambil jurusan IPC, IPS malahan. Pasti tiap tahun ada aja yang gitu. Sebenernya gak ada masalah sih soal itu. Tapi gue mau berbagi sedikit nih.

Dulu, dulu loh, dulu ya.. Gue sempet berpikir gini, ngapain sih masuk IPA kalau ujung-ujungnya ambil lahan orang.. Yah, begitulah pemikiran sempit gue ini. Secara permukaan, emang terlihat seperti itu. Tapi, dengan banyak-banyak sharing dan berkomunikasi dengan mereka, gue malah jadi salut banget.

Bayangin aja, jarak antara UN sama ujian universitas kan mepet banget, tapi buktinya banyak dari mereka yang bisa lolos keduanya, dengan mata pelajaran yang sangat berbeda dan juga nggak sedikit loh jumlahnya. Ditambah lagi sama cerita mereka yang bilang, ada yang terpaksa masuk IPA karena disuruh orang tuanya lah, ada yang sebenarnya mereka gak suka sama pelajarannya lah.. Dan segala macem. Tapi mereka berani untuk mencoba 'menemukan' apa yang mereka inginkan. It's about time. Mungkin mereka sama dengan gue saat gue masih kelas 1 dulu, bedanya mereka baru menemukan keinginan mereka yang sebenarnya saat ini..

Toh, nggak ada yang melarang mereka juga kan untuk mengambil jurusan di universitas yang sama sekali berbeda dengan jurusan mereka saat SMA? Bahkan undang-undang pun memperbolehkan. Both science and social students are the same. Anak IPA boleh ambil jurusan IPS, begitu juga sebaliknya. Fair kan?

Masalahnya.. kebanyakan dari kita sekarang malah sibuk protes bilang bahwa mereka ambil lahan orang lain. Hey, it's their rights, isn't it? Yang kita butuhkan sekarang hanyalah meningkatkan kualitas diri dan memiliki kemampuan bersaing. Kalau orang-orang yang berasal dari latar belakang yang sama sekali jauh aja bisa, masa kita nggak?


DR

14.5.10

Supergranny

Semalem gue mimpi..

Gue bertemu sama eyang gue..

Eyang. Yang udah pergi ninggalin gue sejak 2 tahun yang lalu. Terasa begitu lama, tapi begitu cepat pula. Entah kenapa tiba-tiba beliau muncul dan hadir dalam mimpi gue kemarin. Indah banget. Walaupun hanya sesaat, sekejap, but I can feel that's so real.

Dan gue bisa merasakan betapa sedih dan rindunya saat beliau harus pergi lagi dan menghilang entah kemana. Semuanya terjadi itu aja dan bener-bener terasa seperti sesungguhnya.

And I realize that, I miss her so badly..

Kalau boleh dibilang, semua perjuangan gue selama ini. Di sekolah, kursus, privat, bahkan belajar bareng sama temen-temen, demi mencapai semua impian gue.. dan juga demi eyang. She gave me much spirit than I expected.

Let's talk about this further.

Eyang adalah seorang sarjana lulusan UPI di jurusan Bahasa Inggris. Beliau sempat mengajar di sekolah-sekolah di Bandung sampai akhirnya beliau pindah ke Jakarta. Usianya yang sudah memasuki 70-an tidak menyurutkan beliau untuk terus belajar. Membaca. Mencari ilmu. Bahkan sampai akhir hayatnya pun, beliau tidak pikun sedikitpun dan masih sangat mengingat kami semua.

Sejak kecil, gue emang suka belajar bahasa Inggris sama eyang. Seminggu sekali gue dateng ke rumahnya dan minta diajari dari dasar. Bahkan bukunya pun masih gue simpen sampai sekarang.

Bisa dibilang, gue ini adalah cucu terdekat beliau. Karena ya, setiap minggu gue selalu nginep di rumahnya, sampai beliau mengembuskan nafas terakhirnya.. Dan entah sejak kapan, eyang berharap gue bisa mengikuti jejak beliau. Selain itu, gue pun adalah cucu terakhirnya dan karena sepupu-sepupu gue rata-rata udah pada kuliah, bahkan ada yang udah kerja, tapi gak ada seorang pun yang mengikuti jejaknya.

Akhirnya, sampai pada saat beliau sudah mau 'pergi', semua, dan setiap keluarga, masing-masing diberi wasiat. Termasuk gue. Beliau bener-bener berharap dan menegaskan ke gue kalau beliau ingin gue sepertinya. Bahkan semua buku-buku literatur, novel, conversation, sampai semua kaset yang berhubungan sama bahasa dan sastra Inggris beliau kasihin ke gue. Gak nanggung-nanggung, DUA lemari semuanya buat gue.

Dan entah juga sejak kapan, tiba-tiba keinginan gue yang ingin jadi psikolog ilang begitu aja. Eh beneran loh. Padahal dari gue SMP gue pengen banget jadi psikolog, karena menurut gue menyenangkan bisa memahami tingkah laku manusia sampai ke detail-detailnya. Tapi layaknya air yang dipanasin, semuanya menguap begitu aja.

Setelah dipikir-pikir, baca buku dan menulis emang hobi gue sejak dulu. Bahkan koleksi buku gue pun nggak nanggung-nanggung, gue punya 1 lemari 5 susun dan 2 lemari 3 susun yang semuanya penuh sama buku. Dan kalau gue bisa mengembangkan semua itu dengan pendidikan formal, kenapa ngga? Dan gue mengingat-ingat cita-cita gue sejak SD, sebelum gue berpindah haluan ingin jadi psikolog. Gue pengen jadi.. sastrawan.

Hmm. Dan setelah itu, gak ada alesan lagi untuk nggak menjalankan amanah eyang gue. Mungkin emang bener.. Semangat eyang tertanam kuat di dalem hati gue, itu kata nyokap.

Sudah setahun ini gue berjuang buat itu semua, dan alhamdulillah, gue bisa menjaga amanah beliau sekarang. Gue bisa mengikuti jejaknya dan ingiiin sekali seperti beliau yang haus akan pengetahuan. Semua keberhasilan gue ini gue persembahkan untuk eyang..

Inspiratif. Supportif. My greatest granny ever.

Dan gue berharap beliau bisa tersenyum atas semua ini.. Oh God, I just wondering how does she feel if she knew about this. I really wondering, and I wanna know..

DR

29.4.10

Gak Lulus = Jujur (?)

Tentunya kita semua tahu bahwa kemarin adalah hari kelulusan bagi siswa-siswi SMA. Termasuk gue, bangun pagi-pagi demi menunggu tukang koran, tidak sabar membolak balik isi halaman, dan menyortir nomor-nomor ujian yang tertera di sana.

Girang luar biasa pas gue menemukan nomor ujian gue tertera di sana, berada di antara nomor-nomor ujian lainnya yang lulus. Semua teman-teman gue pun bersuka cita, karena hasil jerih payah kami selama ini tidak sia-sia. Tiga tahun kami bersekolah di SMA ternyata membuahkan hasil. Sebuah kata LULUS yang sangat bermakna bagi kami.

Namun, di antara banyaknya siswa yang lulus, tentunya ada pula yang tidak lulus, atau istilah untuk tahun ini, mengulang. Di teve-teve, surat kabar, dan media lainnya mengatakan bahwa, penurunan angka kelulusan ini dikarenakan tingkat kejujuran yang semakin meninggi. Benarkah demikian? Jika, benar, yaa gue bersyukur banget.

Tapiii, pernyataan tersebut justru menimbulkan pertanyaan. Apabila tingkat kejujuran tahun ini meningkat dan presentasi siswa yang lulus menurun, apakah tahun-tahun sebelumnya mereka tidak begitu? Apakah dengan penurunan angka kelulusan membuktikan semakin banyak siswa yang jujur? Apakah dengan semakin banyaknya siswa yang lulus semakin rendah pula tingkat kejujuran mereka? Hal inilah yang senantiasa menjadi pertanyaan. Kejujuran.

Sejujurnya, Ujian Nasional bukanlah sebuah ujian yang hanya menguji kemampuan akademik kita, tetapi juga menguji mental dan kesiapan, ketelitian dalam hal teknis, juga.. kejujuran.

Sangat disayangkan memang, namun saat ini harus kita akui bahwa kejujuran merupakan sesuatu yang mahal dan langka, yang sulit kita temukan dalam masyarakat kompleks. Bisa kita saksikan sebulan yang lalu dari layar kaca, betapa mirisnya melihat siswa-siswi yang sedang melangsungkan ujian, menggunakan berbagai macam cara untuk HANYA demi untuk mendapatkan sebuah jawaban. Mereka tidak tahu betapa mahalnya harga dari sebuah kejujuran dibandingkan sebuah jawaban yang, belum tentu benar.

Lalu, siapa yang nanti mau memimpin bangsa ini, apabila dari saat ini saja bibit-bibit ketidakjujuran mulai ditanamkan? Siapa yang harus disalahkan saat ini? Diri sendirikah yang kurang bisa mengontrol? Guru-gurukah yang kurang pengawasan? Atau sistemkah yang masih kurang tegas?

Saat semua orang mungkin tidak peduli terhadapmu, saat semua sistem dan hukum carut-marut, membiarkan dirimu bergerak bebas tanpa batas, seharusnya diri KITA sendirilah yang memiliki tameng untuk menghindari hal tersebut.

Keimanan.

Berbagai macam jenis ujian telah dilangsungkan selama beberapa bulan ini. Dan dengan adanya ujian-ujian tersebut, justru semakin memperkuat hubungan gue dengan Tuhan. Gimana cara gue berusaha dan meminta, bagaimana gue diberikan ketenangan dan kemudahan yang luar biasa membuat gue percaya akan kemampuan gue sendiri dengan keridhaan Allah. Yakin deh, gak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini tanpa adanya niat dan kesempatan. Meskipun kita memiliki banyak sekali kesempatan, namun apabila niatan itu telah dihilangkan dari dalam hati kita, semua itu bisa kita bendung.

“Bangkit itu takut. Takut korupsi, takut memakan yang bukan haknya. Bangkit itu malu. Malu jadi benalu, malu karena minta melulu. Bangkit itu tidak ada. Tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa. Bangkit itu Aku. Untuk Indonesiaku.” Dedi Mizwar – Memaknai 100 Tahun Kebangkitan Nasional.

Kita bisa BANGKIT menjadi generasi yang penuh kejujuran.

Salam,

DR

27.4.10

26th April

ALHAMDULILLAHIROBBIL'ALAMIN.
thanks God, now i'm graduate from high school.
thanks God for giving me Your promise, and i believe You'll never break it.
the best gift that i got yesterday morning was my parents' smile :)
and they proud of me because i did well without cheating.
the best result is when you reach your goal with your own ability.
and i'm feel that yesterday, even until this day.
after all this time,
i'm so thankful that i have one step closer to my dreams.

DR

13.2.10

A Story With "Tante Bule"

cerita ini udah cukup lama..

akhir bulan desember kemarin, gue kedatangan sodara gue yang dari australia. mereka itu kakaknya bokap dan kakak iparnya bokap (yaiyalah, suami istri) sayang aja, mereka gak punya anak. jadi gak punya sepupu bule deh.. *ga penting*

jadi ceritanya, om gue yang notabene kakaknya bokap itu udah lama banget tinggal di australia. dari menetap sampai menikah di sana. nah jadi ceritanya setelah bertahun-tahun gak ketemu, akhirnya gue ketemu lagi sama mereka di bogor. yihuu.

mereka berlibur ke bogor cuma 3 hari sajaa karena selebihnya mereka jalan-jalan muterin indonesia. mulai dari bali, jakarta, jawa tengah, dll. jadi ceritanya pas mereka lagi di bogor, gue sama mama dan papa jadi tour guide mereka gitu (duileh) mulai dari jalan-jalan ke kebun raya, puncak, sampe makan malem di restoran sunda (hebat! wajah bule lidah sunda)

jadi sekitar jam 11-an gitu gue ngejemput mereka di hotel pangrango. terus langsung cabut ke kebun raya bogor. entah kenapa ya gue tiba-tiba hepi. bukan, bukan karena gue gak pernah ke sana. tapi karena emang (kita sebut dia tante bule) tante bule gue itu baik banget dan royal. terutama karena gue ditraktir makan di kafe dedaunan haha *otak matre*

terus akhirnya kami ngelilingin kebun raya by walking walking under the trees haha (ngaco) dan si tante bule gue ngomong gini *dalam bahasa inggris yang udah diterjemahkan*

"dilla, negara kamu indah banget. saya pernah ke negara asia lain tapi tidak seindah indonesia. mereka di sana kelaparan, tidak seperti di sini."

dalem hati gue berpikir: "ni tante gak tau aja masih banyak orang indonesia juga kelaparan." *sigh* tapi gue bangga juga sih karena dia sangat menghargai budaya kita. sedangkan kita sendiri? ayoo dong! harusnya kita bisa lebih menghargai warisan budaya kita :)

dan setelah seharian menjadi tour guide, gue jadi merasa bangga dengan warisan budaya dan negara gue. jangan berpikir, apa sih yang negara udah kasih buat gue? tapi berpikirlah, apa sih yang bisa gue kasih buat negara? betul gak? betuuull..

nah, skip. kita beralih..

yah, jadi begitu ceritanya. gue melewatkan banyak hal bersama tante bule gue dan suaminya itu.. and i never expected that that day will be my last day with her.

beberapa hari kemudian mereka terbang ke bali sebelum akhirnya pulang ke australia. dan pada hari senin malam (gue bertemu mereka hari selasa minggu lalunya) gue dikabarin bahwa tante bule gue itu mengalami koma.. setelah jatuh di kolam renang hotel. kontan, gue langsung shock. masa sih? kan gue baru kemaren ketemu? kok bisa? dan segala macam pertanyaan semacam itu.

see.. gue gak pernah menyangkan bahwa beberapa kejadian bisa terjadi sebegitu cepatnya. rasanya baru kemarin gue ngobrol sama dia, makan malem bareng, dibeliin oleh-oleh, dan segala macem. dan semuanya terjadi begitu aja. tanpa ada yang tahu. tanpa ada yang mau. tanpa ada yang bisa merubahnya.

seandainya tante gue gak lewat kolam renang..

seandainya tante gue gak ke bali..

seandainya..

seandainya..

terlalu banyak kata "seandainya". padahal harusnya kita tahu bahwa semua hal tersebut udah direncanakan oleh-Nya.

gak ada yang harus dirubah.

memang harus begitu jalannya.

dua minggu kemudian tante gue dibawa pulang ke australia dan dikabarkan meninggal di sana. well..

gak ada yang tahu apa yang akan terjadi minggu depan, besok, ataupun sedetik kemudian. seperti gue, rasanya gue seperti bermimpi. di saat gue sedekat itu dengan tante gue, bercerita dan berbicara, tak lama kemudian kita terpisah sedemikian jauhnya.

begitulah hidup. between two nothingness. before we born, we were nothing. after we dead, we will be nothing.

DR

10.2.10

Is That True?

there was someone who ever said this to me:

"if there was an exhibition that sell human brains, the brain of Indonesians will be the most expensive. brains of Americans will be valued $ 1, Japanese people's brains will be valued $ 10, and the brains of Indonesians will be valued $ 100. why it can be so expensive? because the brain of Indonesians have never been filled anything."

DR

24.1.10

Evening Thought

mari sekarang kita merenung.. *jengjeng*

gue akhir-akhir ini selalu merenung.. sekarang gue udah duduk di bangku kelas 3 SMA. dua bulan lagi UN bakalan diselenggarain, SIMAK UI juga, UM UGM juga, SMUP UNPAD juga, dan segala macemnya.. saat ini posisi gue kayak lagi "digantung". pengen cepet-cepet lulus, tapi juga gak mau ninggalin masa-masa SMA.

selama masa SMA gue, gue rasa jarang banget ada hal yang berkesan. gue bukan orang yang eksis dan suka nongkrong di kafe gaul dan gue juga bukan kutu buku yang selalu jadi kesayangan guru-guru. gue bener-bener sangat ordinary. atau di tengah-tengah. atau plin-plan.

saat gue liat temen-temen gue dari SMP yang kebetulan satu sekolah sekarang, gue rasa mereka memiliki sesuatu "lebih" yang gak gue miliki. yang satu, sekarang sukses di eksul dan berorganisasi, yang satu jadi anak gaul, yang satu jadi anak pinter, dan lain-lain.. sedangkan gue, the same as the previous me. gue cuma anak yang, gak pinter-pinter amat, gak gaul-gaul amat, gak dikenal guru-guru amat. pokoknya serba setengah. gue cuma anak SMA biasa yang hobi baca buku, nulis, dan pacaran sama laptop. hmmm..

tapi gue rasa semua itu gak penting. yang penting jadi diri sendiri aja dan gue nyalaman dengan keadaan gue sekarang. dan gue lebih memilih jadi orang pinter dibanding orang populer. makanya sekarang gue lagi berusaha biar jadi pinter.. haha. karena dari dalam diri gue sendiri pun, gue lebih menghargai orang-orang yang berisi dibanding orang yang hanya mementingkan popularitas. bergaul oke, tapi gue gak mikirin popularitas. yang penting gue punya temen yang bisa nyambung sama gue dan bisa gue ajak berbagi apapun.

sekarang, gue pengen banget ngasih pembuktian ini. gue pengen banget bisa jadi orang yang bisa berguna, at least, bagi diri gue sendiri. gue pengen banget bisa jadi orang yang bisa dibanggakan, minimal untuk orang tua gue. karena sekarang gue berjuang mati-matian buat semua tes perguruan tinggi tersebut, karena cuma satu yang gue pengen. gue pengen bikin kedua orang tua gue bangga. gue pengen liat senyum mereka atas apa yang gue capai. i wish i could.. hanya itu.

God, please give my parents, my dearest mom and my lovely daddy longevity. so that i can give them happinesses in their lives. please, give me their smiles. and i know i don't need anything when i can stay with them. for. ever. Amin.

DR